Rabu, 29 Februari 2012

TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN






“Ingsun
tojalining Dzat Kang Maha Suci, Kang murba amasesa, Kang kuwasa
Angandika Kun Fayakun mandi sakucapingsun, dadi saksiptaningsun,
katurutan sakarsaningsun, kasembadan saksedyaningsun karana saka
Kodratingsun. Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya
eling. Saningmaya araning Muhamad , Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi
sak sirku, yaiku sejatining manungsa, urip tan kena ing pati,langgeng
tan keno owah gingsir ing kahanan jati, ing donya tumeka jagad
langgeng. Ingsun mertobat lan nalangsa marang Dzat ingsun dewe, regede
badaningsun, gorohe atiningsun, laline uripingsun, salahe
panggaweningsun, ing salawas lawase dosaningsun kabeh sampurna saka
kodratingsun.”


“Ilmu iku kalakone kanthi laku”: ilmu itu
terlaksana karena dilakukan di dalam perbuatan yang nyata. Dalam
konteks khasanah falsafah Jawa, kata “ngelmu” menunjuk pada ajaran
hidup menuju kesempurnaan diri pribadi. Ajaran itu teori dan teori
tidak akan membawa manfaat apa-apa bila tidak dipkraktekkan dalam hidup
sehari-hari.


Di dalam sebuah ajaran ada perintah dan
larangannya. Tujuan perintah larangan adalah untuk mendisiplinkan diri
agar diri yang sebelumnya “liar” menjadi “jinak”, diri yang sebelumnya
memperturutkan keinginan “diri”/ego/keakuan menjadi diri yang bisa
menurut dengan diri-Nya/Ego-Nya.


Kenapa diri ini harus manut dengan
keinginan atau kehendak-Nya? Ada sebuah analogi yang gampang dicerna.
Misalnya, sebuah mobil BMW diciptakan dan diproduksi oleh pabrik BMW di
Jerman. Pabrik sudah mengeluarkan petunjuk penggunaan, aturan perintah
dan larangan.


Pabrik tidak asl bikin petunjuk
penggunaan. Sang insinyurnya sudah memiliki prediksi agar mesin dan
bodi mobil itu awet, maka oli harus dignti saat mobil sudah mencapai
sekian kilometer. Insinyur juga memiliki prediksi bahwa usia efektif
mobil tersebut sekian tahun. Hingga mencapai batas usia tertentu, maka
mobil akan digolongkan istimewa dan menjadi barang antik.


Begitu pula manusia. Manusia diciptakan
oleh Tuhan dan Sang Insinyur Manusia ini sudah mengeluarkan buku
panduan lengkap, tata cara hidup dan berkelakuan agar dipedomani
sebagai arahan hidup mulai o tahun hingga semilyar tahun mendatang.


Beda dengan benda yang “ada”nya begitu
sederhana. “Adanya” manusia ini sungguh luar biasa. Manusia diberikan
kebijaksanaan untuk menentukan masa depannya sendiri sebelum dia
dilahirkan di dunia. Manusia diberi kekuasaan-Nya untuk merancang
sendiri dia nantinya akan jadi apa, akan kemana, apa tujuan hidupnya.
Ya, karena Tuhan Maha Pemurah, maka manusia dijinkan menjadi insinyur
yang bebas merancang dirinya sendiri.


Ruh yang merupakan “manusia sejati” dan
“sejatinya manusia” itu, sebelum ada di dunia telah merancang dirinya
sendiri dengan menulis di buku kitabnya masing-masing. Tuhan hanya
memberikan kata “ACC” dan membubuhkan “stempel” saja. Tuhan pun
menekankan bahwa yang berlaku nanti di bumi adalah hukum sebab akibat.
Hukum karma, sunatullah atau disebut juga dengan hukum alam.


Jadi, salah bila dikatakan bahwa adanya
sial, bencana, bahaya, ketidaksuksesan hidup itu karena Tuhan. Tuhan
tidak cawe-cawe sama sekali. Itu murni urusan manusia yang tidak paham
dan malah mungkin melanggar pantangan hukum sebab akibat.


Keberhasilan dan kesuksesan adalah akibat
dari sebuah sebab. Sebab keberhasilan/kesuksesan adalah kerja keras.
Untuk bekerja keras butuh motivasi kerja yang tinggi dan niat yang
teguh. Tubuh/Raga yang rajin bergerak mencari rezeki yang halal,
asalnya adalah jiwa/batin yang tenang, nyaman dan bahagia.


Kembali ke tema awal. Apa saja tata cara
ngelmu sangkan paran? Di dalam khasanah Kejawen, dalam buku “Cipta
Brata Manunggal” karangan Ki Brotokesawa disebutkan laku yang perlu
dijalani:


1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo


2. Jaga kebersihan lahir batin


3. Olah raga


4. Olah nafas


5. Berpakaian yang pantas dan bersih.


7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan


8. Bekerja rajin


9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan


10. Makan teratur dan higienis.


11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam


13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.


14. Perasaan dan pikiran terarah.


16. Tidak terlalu banyak bicara.
Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah
instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat
pembuka.


Dalam buku “Cipta Brata Manunggal” juga dipaparkan proses tingkat-tingkat manembah/sembah kepada Gusti. Berikut tingkatan itu:


A. SEMBAH RAGA yaitu
tapaning badan jasad kita. Tubuh, jasad bergerak atas perintah batin.
Batin diperintah oleh dua unsur, baik (nur Ilhiah) dan buruk (nar
Iblis). Agar tubuh disiplin, terarah dan terkendali maka perlu dilatih.
Tingkatnya adalah syariat. Tubuh tetap melakukan disiplin ibadah.


B. SEMBAHING CIPTA, di
Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Untuk mencapai hati
luhur perlu kesadaran nalar (logika). Diperlukan olah nalar yang bagus
sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Tujuan sembah cipta adalah 
mengerti akan “kasunyatan”. Ilmu pengetahuan harus dikuasai agar
memiliki perbandingan baik dan buruk. Kebijaksanaan akan lahir bila
kita mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Memahami Ilmu
Ketuhanan diperlukan syarat berupa cipta yang bersih dari hawa nafsu
dan olah nalar yang mumpuni. Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang “sangat
halus” yang bisa ditangkap dengan kegigihan memperhalus batin dan
mentaati prinsip-prinsip berpikir yang lurus.


Tujuan dari sembah cipta itu
mengendalikan dua macam sifat: angkara( yang menimbulkan watak adigang,
adigung, adiguna, kumingsun dsb.) dan watak keinginan mengusai akan
kepunyaan orang lain (kemelikan-jw). Cipta yang bersih yaitu kalau
sudah bisa mengendalikan angkara murka, Tandanya bila cipta sudah
“manembah”, yaitu waspada terhadap bisikan jiwa.


Jadi sembah itu intinya melatih cara
kerja cipta, dengan cara Tata, Titi, Ngati ati, Telaten, dan Atul. Atul
adalah pembiasaan diri agar mendarah daging menjadi kebiasaan dan
watak yang akhirnya terbiasa mengetahui sejatinya penglihatan (sejatine
tingal) yaitu Pramana, bisa dikatakan sampai kepada jalan sejati,
yaitu penglihatan pramana (tingal pramana).


Tanda sudah sempurna sembah cipta adalah
berda di dalam kondisi kejiwaan sepi dari pamrih apapun.  Seperti tidak
ingat apapun itu pertanda sudah sampai batas, yaitu batas antara
tipuan dan kenyataan (kacidran lan kasunyatan – jw), jadi sudah ganti
jaman, dari jaman tipuan menjadi jaman kenyataan.


Rasa badan ketiga (saka penggorohan
maring kasunyatan Rasaning badan tetelu), wadag astral dan mental tadi
seketika tidak bekerja. Disitulah lupa, tetapi masih dikuati oleh
kesadaran jiwa (elinging jiwa), dan waktu itu menjadi eneng, ening, dan
eling.  Artinya eneng: diamnya raga, Ening : heningnya cipta, Eling:
ingatnya budi rasa yang sejati.


C. SEMBAH JIWA. di
Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru
bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa
“kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi.
Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak
tercampuri oleh rasa lahir sama sekali.


Bila sudah melihat cahaya yang terang
tanpa bisa dibayangkan tetapi tidak silau, pertanda telah sampai kepada
kekuasaan “kasunyatan”(kesejatian), yang juga disebut Nur Muhamad,
yaitu tiada lain Cahaya Pramana sendiri, karena dinamai pramana karena
cahayanya yang saling bertautan dengan rasa sejati dan budi, disitu
rasa jati dan budi akan berkuasa(jumeneng), sudah sampai kepada
kebijaksanaan. Artinya kebijaksanaan merasa sampai mengerti yang
melakukan semadi tadi, saling berkaitan tak terpisahkan dengan cahaya
yang terang benderang yang tidak bisa dibayangkan.


D. SEMBAH RASA, di Islam
dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Inilah
rasa manusia yang paling halus, tempat semua rasa dan perasaan dan
bisa merasakan perlunya menjadi manusia  yang berbudi luhur dan
menyadari bahwa dia adalah pribadi yang merupakan Wakil-Nya. Bahkan
pada tahap akhir pemahaman makrifat, dia akan “menjadi” Tuhan itu
sendiri (Gusti amor ing Kawulo). Rasa hidup adalah rasa Tuhan, rasa
Ada, ya diri pribadi, bersatu tanpa batas dengan rasa semua ciptaan
Nya. Tanda bila sudah mencapai kasunyatan, sudah hilang ilah-ilah yang
lain hingga sampai mencapai TAUHID MURNI.






silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

0 komentar:

Posting Komentar