Kamis, 09 Februari 2012

SANGKAN PARANING DUMADI





Dalam hidup ini, manusia senantiasa
diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang berbunyi “Sangkan
Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak
orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan
Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah
hidup kita berada di akhir hayat. Manus…ia sering diajari filosofi
Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya
Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman
filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk
memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita
ini nantinya.


Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak
tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih
terus dikumandangkan.


Kawruhana sejatining urip Urip ana jroning alam donya Bebasane mampir ngombe Umpama manuk mabur Lunga saka kurungan neki Pundi pencokan benjang Awja kongsi kaleru Umpama lunga sesanja Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih Mulih mula mulanya


Ketahuilah sejatinya hidup,


Hidup di dalam alam dunia,


Ibarat perumpamaan mampir minum,


Seumpama burung terbang,


Pergi dari kurungannya,


Dimana hinggapnya besok,


Jangan sampai keliru,


Umpama orang pergi bertandang,


Saling bertandang, yang pasti bakal pulang,


Pulang ke asal mulanya,


Kemanakah kita bakal ‘pulang’? Kemanakah
setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini? Dimana tempat hinggap kita
andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak
orang-orang yang mencari ilmu sejati.


Yang jelas, beberapa pertanyaan itu
menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di
dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya
jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh
Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya
seperti ini:


“Kowe padha kuwalik panemumu,
angira donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi ngalame wong mati;
mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang kahanan ing donya, sarta
suthik aninggal donya.”
(“Terbalik pendapatmu, mengira
dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya
kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan
alam dunia”)


Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah: Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?


Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya: “Sanyatane,
donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan
naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita
bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo
bajingan.”
(Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati,
iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah.
Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng,
tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali
ataupun bajingan”)


Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita
bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda
(kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat
kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan
hidup yang sejati ataupun langgeng.


Wejangan beberapa leluhur mengatakan: “Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”.
(hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian).
Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul
adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa
berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?


Ajaran para leluhur juga menjelaskan: “Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, yen siro ora ngerti sampurnaning urip.” (mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).


Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba
ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam
dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.



















silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

0 komentar:

Posting Komentar