Sabtu, 11 Februari 2012

kidung pitutur : KERINDUAN


 




Detak jantung yang mengembara




ketika malam tiba.




Tak mampu lagi menembus kata




dalam alunan suara dzikir




menanti ”kedatangan”NYA.




Entah sudah berapa lama




aku bersimpuh "menghadap”MU.




Namun,




aku masih saja termangu




didalam deritaku.




Suara burung malam




hampir-hampir mengejutkan.









Tak lagi aku mampu




ketika aku bertanya




siapakah aku ini ?




Aku bertanya kembali




pada relung-relung hati.




Aku tak tahu jawabnya.




Hanyalah ranting-ranting malam




yang berjatuhan




ditiup angin kian kemari.




Namun hatiku gundah.









Sebuah kerinduan begitu
besar, begitu dahsyat.




Seakan-akan,




aku tak mampu.




Seakan-akan,




aku tak berdaya




menanti ”kedatangan”MU.




Tapi kutahu,




dan aku mengerti.




Betapa aku




adalah segunduk tanah




yang tiada berarti.




Aku bukanlah sebuah gunung.




Aku bukan pula seluas lautan.




Aku ini manusia.




Aku ini hamba.




Hamba yang sedang mencari,




datangnya kerinduanku.




Datangnya kerinduanku,




untuk ”bertemu” denganMU.









Ya Allah, Ya Robb




YANG MAHA dari segala Yang Maha.




Aku ini hamba.




Namun aku sadar




bahwa aku harus mencari




siapa aku ini.




Karena aku sedang sendiri




aku sedang tafakur




menanti jawab




siapa sebenarnya aku ini.




Karena aku tahu




aku tak mampu untuk ”mengenal”MU




karena kerinduanku




hanyalah sebuah kerinduan.




Aku akan mencari.






 




Aku akan mencari.




Dan aku ingin dapati




harumnya Bunga Si Harum Dalu




Adalah bagaimana aku harus mengerti.




Bagaimana aku harus tahu




tentang siapa aku.




Agar kerinduanku mencapai puncak.




Adalah puncakMu




dimana aku ”mengenal”Mu.









Tapi aku




aku sendiri




aku sedang berjalan




meniti antara langit dan bumi.




Hingga aku tak mengerti




betapa banyak butir-butir, noda-noda,




yang masih menempel di HATI NURANI-ku




adalah kabut nafsu.









Maka,




sungguh aku tertutup.




Bahkan aku lupa.




Bahkan aku tidak mengerti lagi




siapa aku yang
sebenarnya.




Karena sesungguhnya,




aku hanya tahu




dan aku hanya mengerti




namun aku tak mengetahui.









Ya Allah.




Aku berjalan didalam kerinduan.




Aku berjalan didalam pengertian.




Namun,




aku masih rindu.




Aku sedang rindu.




Aku sedang menanti kerinduan .




”kedatangan”MU bersama aku




dan aku ”bersama”MU.









Namun begitu sulit




aku mengenali aku.




Sehingga aku menjadi buta.




Aku menjadi tuli.




Dan aku tak mengerti.




Aku lupa akan diriku.




Sehingga,




aku belum juga menemui kerinduan.




Sebagaimana kerinduan




yang sedang kucari.









Aku tahu.




Aku harus TAHU
DIRI




untuk mengenal diri




agar kerinduan itu
datang menjemput.




Dan aku tahu




agar kerinduan itu datang
”bersama”
MU.









Aku rindu,




didalam kerinduan.




Tapi aku tak tahu




bagaimana mencapai



kerinduan.






 source:  : menuju kesempurnaan hidup sejati







0 komentar:

Posting Komentar