Kamis, 21 Juli 2011

Flashback: Foto sepasang naga Kutai yang menggemparkan warga

jagad misteri : Lebih dari satu tahun yang lalu, kompas.com memuat sebuah berita (yang diambil dari tribun kaltim) mengenai penampakan sepasang naga/ular raksasa di wilayah Kutai Barat. Berita ini disertai sebuah foto.






Pada
hari ketika berita itu dimuat kompas.com, seorang pembaca mengirim
sebuah email mengenai hal ini dan meminta saya untuk mempostingnya.
Ketika saya membaca berita tersebut dan melihat foto yang disertainya,
saya tidak terkesan sama sekali karena bagi saya foto itu jelas terlihat
seperti sebuah karya photoshop. Jadi, saya tidak punya niat untuk
mempostingnya.



Namun
masalahnya adalah, setelah lebih dari satu tahun, saya masih saja
menerima pertanyaan mengenai foto ini. Jadi untuk menjawab pertanyaan
sebagian pembaca yang masih penasaran, saya akan mengomentari foto
tersebut dengan menyertakan alasan mengapa saya percaya kalau foto
tersebut adalah sebuah rekayasa.

Bagi kalian yang belum pernah mendengar berita ini, berikut cuplikan dari kompas.com tanggal 5 Februari 2010. Kompas mengambil berita ini dari kaltim.tribun.co.id yang masih merupakan media grup Kompas.



KOMPAS.com
— Masyarakat Kutai Barat (Kubar), khususnya warga Mahakam Ulu,
digemparkan kemunculan sepasang ular raksasa sebesar drum atau
berdiameter sekitar 60 sentimeter dengan panjang sekitar 40 meter. Ular
raksasa itu terlihat meliuk di permukaan air di Riam Haloq, Kampung Long
Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai.


Ular
raksasa yang melintas di sungai itu diyakini masyarakat Suku Dayak
sebagai naga. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, sebenarnya
peristiwa kemunculan naga terjadi Jumat (29/1/2010).


Saat
itu sebuah longboat berangkat dari Long Bagun menuju Long Pahangai.
Longboat tiba siang hari di Kampung Long Tuyuq, hulunya Riam Haloq. Saat
itulah motoris dan penumpang longboat melihat sepasang ular raksasa
melintas di permukaan Sungai Mahakam dari arah berlawanan.


Begitu
mengetahui sepasang naga lewat, motoris langsung menepikan longboat ke
tepi sungai karena khawatir menjadi korban. "Ternyata kedua naga itu
berjalan terus dan tidak merasa terganggu dengan kehadiran longboat,"
tutur Dodik, yang mendengar cerita dari keluarganya di Mahakam Ulu.


Setelah
itu, motoris dan beberapa penumpang langsung mengambil gambar
menggunakan ponsel berkamera karena menganggap itu sebuah momen langka.
Di wilayah Kubar sendiri foto ular raksasa itu telah tersebar dan
masyarakat menjadi heboh.




Ia
menambahkan, sebelumnya di Long Tuyoq bahkan ada seorang warga dan
anaknya yang sedang berburu babi melihat ular raksasa tersebut. Saking
kagetnya, sang anak sampai tidak bisa berbicara hingga kini.



Sebelumnya,
pada Februari 2009, Kalimantan juga bikin heboh dunia saat muncul
sebuah foto udara yang memperlihatkan ular raksasa tengah melintas di
sebuah sungai di Sarawak, Malaysia. Ular raksasa itu berenang di Sungai
Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan.



Sebuah foto ular
raksasa terlihat berenang melenggak-lenggok di sebuah sungai tropis yang
dikelilingi oleh hutan gambut. Ular berwarna hitam itu sangat besar,
hampir memenuhi sungai yang terletak di tengah-tengah hutan rawa yang
rimbun. Air beriak di kiri kanannya. Kabarnya, foto itu diambil dari
sebuah helikopter, 11 Februari 2009.



Foto itulah yang menjadi
perdebatan. Kalimantan memang memiliki ular-ular raksasa. Namun, selama
ini ular yang besar yang baru ditemukan adalah sejenis sanca atau piton
atau masyarakat Kalimantan menyebutnya ular sawah, yang panjangnya
belasan meter.



Namun, ular yang terlihat di foto dan beredar luas
di internet, termasuk Youtube, itu jauh lebih panjang dan besar
dibandingkan dengan temuan piton. Diperkirakan panjangnya 100 kaki atau
sekitar 33 meter.



Gambar tersebut diambil oleh anggota tim
wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak,
sebuah koran lokal. New Straits Times di Kuala Lumpur juga memuat foto
tersebut, yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris.



Ada
juga yang tidak memercayai foto itu dan menganggapnya rekayasa semata.
Hal itu karena terlalu jauhnya pengambilan gambar ular tersebut. Benar
atau tidak, foto itu sudah membuat masyarakat di sekitar Serawak,
khususnya Sibu, ketakutan sebab sungai itu merupakan urat nadi
transportasi masyarakat selama ini.

Saya merekomendasikan kalian untuk membaca berita tersebut secara penuh dengan mengklik link yang saya sertakan di atas.

Saya
yakin, beberapa dari kalian yang melihat foto tersebut akan segera
tertawa. Tidak heran, saya memang percaya ada orang yang memiliki
kepekaan terhadap sebuah rekayasa, apalagi rekayasa yang "kasar".

Namun
bagi kalian yang tidak memiliki kepekaan itu dan ingin mengetahui
alasan yang lebih jelas, saya akan berikan tiga alasan mengapa saya
yakin kalau foto tersebut adalah hasil rekayasa.

Alasan pertama adalah, adanya bekas-bekas sentuhan photoshop pada tubuh ular tersebut.

Bahkan jika kita hanya melihat dengan sekilas, kita bisa melihat adanya blur pada tubuh ular tersebut. Blur ini tidak terlihat pada kepala ular.

Ini
wajar karena tubuh ular yang berada di dalam air akan lebih sulit
direkayasa dibandingkan bagian kepala yang berada di atas permukaan air.
Mungkin sang perekayasa menggunakan efek blur atau smudge
pada photoshop untuk menciptakan efek riak air. Namun usaha ini tidak
berhasil karena bagian tersebut terlihat tidak alami dan berbeda dengan
sekitarnya.

Alasan kedua adalah, kesaksian yang meragukan.

Saya kutip:

"Menurut seorang warga Kampung Lutan, Kecamatan Long Hubung, sebenarnya ada dua naga yang terlihat. Satu naga diyakini berjenis jantan karena di kepalanya ada dua tanduk dan naga betina karena tidak ada tanduknya. Kedua binatang itu memiliki empat kaki, warna kulit hitam dengan panjang sekitar 40 meter dan diameter tubuh sekitar 60 sentimeter."

Menurut kesaksian seorang warga, ada dua naga yang terlihat dan masing-masing memiliki empat kaki.

Agak mengherankan jika disebutkan ada dua naga yang terlihat sedangkan hanya ada satu naga di dalam foto.

Namun, anggaplah kalau kedua naga ini memang tidak saling berdampingan. Naga jantan yang bertanduk berada jauh di depan sehingga tidak terpotret. Kalau begitu, pertanyaannya selanjutnya adalah:

"Bagaimana para saksi bisa mengetahui kalau naga itu memiliki empat kaki?"

Bukankah kaki mereka berada di dalam air yang coklat berlumpur?

Bagaimana cara mereka melihatnya?

Apakah naga tersebut sempat berenang dengan gaya punggung?


Lalu,
mungkin dari kalian ada yang berargumen: "Bisa saja kesaksian dan foto
itu tidak saling berhubungan. Foto itu benar diambil di Riam Haloq,
sedangkan kesaksian yang dikutip kompas.com merujuk ke naga yang lain."

Memang benar, bisa seperti itu. Namun sang wartawan mengindikasikan kalau keduanya saling berhubungan. Bukankah begitu?

Alasan ketiga adalah, posisi kepala sang naga.

Salah satu alasan mengapa saya langsung menganggap foto ini hasil rekayasa adalah karena posisi kepala ular yang tidak alamiah (selain karena bentuk kepalanya yang lebih menyerupai bebek ketimbang naga).

Posisi yang tidak alamiah ini mungkin disebabkan oleh dua hal, yaitu ingin menciptakan "efek ular" atau ingin menciptakan "efek monster danau".

Yang
saya maksudkan dengan efek ular adalah posisi seperti kobra yang siap
menyerang. Jika ia membuat foto dengan kepala seperti itu, orang yang
melihatnya akan langsung teringat dengan ular.

Sedangkan efek
monster danau adalah usaha untuk mengasosiasikan makhluk tersebut dengan
monster danau yang paling terkenal di dunia, yaitu Nessie.

Nessie sendiri adalah monster danau yang paling terkenal di dunia yang dipercaya hidup di Danau Ness (Lochness), Skotlandia.

Imajinasi orang mengenai rupa makhluk ini dibentuk oleh foto yang disebut Surgeon Photo.

Walaupun
foto ini terbukti hoax, namun masyarakat dunia terlanjur
mengasosiasikan monster danau dengan leher panjang yang menjulur keluar
dari air sehingga foto-foto hoax monster danau berikutnya selalu dibuat dengan posisi kepala dan leher seperti ini.

Masalahnya
adalah, posisi leher dan kepala Nessie pada Hoax Surgeon Photo lebih
masuk akal karena Nessie dipercaya sebagai Plesiosaurus.

Dalam kasus kita kali ini, makhluk yang dibicarakan adalah seekor ular/naga sehingga posisi leher atau kepalanya menjadi tidak tepat.Berikut ini adalah contoh posisi kepala ular yang berenang di air.

Ular tidak pernah berenang dengan posisi kepala 90 derajat dengan permukaan air.

Pernahkah kalian menyaksikan sebuah film dokumenter mengenai ular?

Ketika ular itu bergerak/merayap, bagaimana posisi kepalanya?

Tentu saja sejajar dengan tanah.

Sama halnya dengan ketika ia berenang. Ia hanya memunculkan kepalanya sedikit untuk bernafas.

Menariknya,
artikel ini juga menyebutkan mengenai adanya foto ular sepanjang 33
meter di utara Kalimantan yang didapat tahun 2009.

Mengenai foto-foto ini, saya sudah pernah mempostingnya. Ini juga hoax. Kalian bisa membacanya disini: Rekayasa Ular Raksasa Borneo.

Paling
tidak, perekayasa foto ular sepanjang 33 meter tersebut membuat posisi
kepala ular dengan benar. Mungkin karena ia merekayasanya dengan meniru
gerakan ular yang asli.

Itulah tiga alasan mengapa saya menganggap foto itu sebagai sebuah rekayasa.

Sekarang pertanyaan berikutnya adalah, dari mana kompas.com mendapatkan foto tersebut?

Karena
kompas.com menyebutkan sumber berita tersebut adalah tribun kaltim,
maka masuk akal jika mereka mendapatkannya dari media tersebut. Saya
berusaha menemukan berita awalnya di tribun kaltim dengan mengikuti
beberapa link yang dicantumkan blog dan situs yang memuat berita ini,
namun sayangnya, berita mengenai sepasang naga ini sudah lenyap dari
situs tersebut.
Berita ini juga lenyap dari tribun palembang.



Beberapa
media berita memang sering mengarsip berita yang sudah cukup lama untuk
menghemat biaya. Namun untuk media sebesar tribunnews, agak
mengherankan kalau berita yang baru berumur 1,5 tahun sudah masuk ke
dalam arsip. Atau mungkin berita tersebut memang sengaja dihapus.

Tribun Banjarmasin
masih memuat berita tersebut. Namun mereka tidak menyertakan foto.
Mungkin mereka pun merasa aneh dengan foto tersebut.

Benar-benar foto yang misterius!
Bukankah begitu?

Nah,
sebelum saya akhiri, saya ingin menegaskan kalau saya TIDAK beranggapan
ular raksasa itu tidak ada. Yang saya tolak adalah keabsahan foto yang satu ini.

Lalu, percayakah saya dengan keberadaan ular raksasa di Kutai?

Saya
tidak mengatakan kalau ular raksasa pasti ada di Kutai karena saya
belum pernah memeriksa kota Kutai secara keseluruhan. Namun saya tidak
heran kalau di dunia ini ada ular raksasa sepanjang belasan atau puluhan
meter. Apalagi untuk Kutai yang terbiasa dengan buaya sepanjang 6 meter.


sumber : enigma

0 komentar:

Posting Komentar