Minggu, 29 Mei 2011

perjalanan sang DRUPADI menghantar DARMA ( bagian 2 )





perkawinan drupadi





 Inilah
pilihan hidup yang dijalani Drupadi mencari laki-laki sempurna. Dalam
suatu kesematan Khrisna menjawab Drupadi atas pertanyaan yang
menggelisahkan hatinya. Atas keinginannya untuk memenuhi kemauan
ayahandanya mencari sosok laki-laki sempurna, atas pertanyaan dalam
hatinya apakah kakaknya Drestadyumna belum cukup sempurna, dan atas
semua pertanyaan yang tidak terungkapkan dalam kata-kata tetapi
dimengerti sri Khrisna.



Tibalah waktunya bagi Drupadi untuk memiliki
calon suami. Suami yang tentunya gagah perkasa dan kuat seperti
keingingan ayahnya Drupada. Raja Drupada mengadakan sayembara memanah.
Barangsiapa dapat memanah suatu sasaran dengan tepat lima kali
berturut-turut dialah calon suami Drupadi.





Sayembara
ini diikuti oleh seluruh kesatria dari berbagai negeri dan kerajaan.
Tidak kalah ketinggalan putera-putera Korawa dari Hastina, dan para
Pandhawa yang tengah menyamar sebagai brahmana karena pada waktu itu
Pandhawa sedang dalam masa pembuangan. Para peserta sayembara mencoba
mengangkat busur, memasang anak panah dan membidik sasaran. Sasaran
ditempatkan dalam posisi yang terus berputar sehingga sulit bagi
peserta untuk membidik dengan tepat. Hampir semua peserta gagal. Karna
adalah seorang peserta yang berhasil memanah dengan tepat mengenai
sasaran, tetapi Drupadi menolak karena Karna hanya putera seorang kusir
bukan dari golongan kesatria. Karna, sakit hati tapi tak dapat berbuat
apa-apa. Para peserta menggerutu dan menganggap sayembara itu hanya
permainan karena sulit bagi peserta untuk membidik dengan tepat.



Akhirnya
tampilah seorang brahmana muda yang atas persetujuan Drupada diizinkan
mengikuti sayembara. Brahmana muda yang tidak lain adalah Arjuna,
berhasil memanah dengan tepat mengenai sasaran lima kali berturut-turut
bahkan sasaran sampai terjatuh.






Bersoraklah seluruh peserta dan raja Drupada atas keberhasilan brahmana
muda itu, meskipun beberapa kesatria memprotes tindakan raja Drupada
yang mengizinkan brahmana ikut sayembara. Keributan tak dapat
dihindari, Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya
sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa pulang menjaga ibunda mereka
Kunti, Khrisna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa
sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Drupadi dan ia berkata
kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut
mendapatkan Drupadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara
dengan baik.





 


Panah Brahmasta Jemparing Sukma Sang Maha Cinta






Drestadyumna
yang curiga dengan brahmana muda itu mengikuti dari belakang kemana
perginya brahmana itu dan dibawa kemana adiknya. Dan setelah tahu bahwa
brahmana muda itu adalah Arjuna maka legalah hatinya, karena Drupadi
berada pada orang yang tepat dan dilaporkannya hal itu pada ayahandanya
Drupada. Raja Drupada yang mendengar hal ini menjadi lega, karena
jalan untuk membalaskan dendamnya sudah terbuka. Kini ia dapat
menguasai Arjuna dan para Pandhawa untuk membalas sakit hatinya pada
Drouna.


Setelah
keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa
serta Drupadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur
berselimut sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang
bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan
mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil meminta-minta.
Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun
Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa
hasil meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Kunti tidak mau
berdusta maka tak pelak lagi Drupadi pun menjadi istri dari kelima
anaknya, dengan catatan masing-masing digilir satu tahun dan selama itu
masing-masing tidak boleh saling memergoki saudaranya yang sedang
berdua dengan Drupadi. Keputusan ini ditaati oleh putera-putera Kunti.
Dan mereka tidak pernah membantah kata-kata ibundanya.

Drupadi
tertegun. Sejenak tak dapat berkata-kata. Kegamangan, kerisauan dan
sejuta rasa dan pikiran menerawang jauh entah kemana, dan dia tidak
tahu harus berbuat apa. Rasa senang dan puasnya karena dia berhasil
menyanding Arjuna, berubah menjadi tidak karuan ketika menghadapi
kenyataan bahwa ia harus menjadi isteri dari kelima Pandhawa. Artinya
dia harus membagi cinta, kasih sayang dan pengabdian kepada lima lelaki
yang tentunya berbeda karakter dan pembawaannya, dengan cukup adil dan
membahagiakan. Sanggupkah ia melakukan semua ini. Terbersit kengerian,
ketakutan dan kegelisahan, disamping juga rasa puas dan bangga
memiliki lima lelaki dalam hidupnya, yang mungkin jarang bisa didapat
dan dilakukan oleh seorang perempuan.





Terbersit
pertanyaan dalam hatinya apakah ini terkabulnya permohonannya kepada
dewata agung untuk memiliki suami yang sempurna, ataukah kutukan atas
permintaannya. Tetapi sejuta tanya itu disimpannya dalam hati,
kekagumannya kepada ibunda Kunti menguatkannya untuk menjalani semua
ini dengan baik. Apalagi budi pekerti kelima putera Pandhu ini sangat
menawan hati. Mereka sehati dan tidak pernah bermusuhan, selalu akur,
segala perkara bisa diselesaikan dengan baik. Dan inilah yang
menguatkannya untuk berani menjalani takdirnya memiliki lima suami.
Inilah Drupadi dan inilah jalan hidupnya. Inilah Drupadi yang lahir
dari api suci, lahir dari dendam untuk mengakhiri dendam baik yang
sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Dan memutus mata rantai dendam
yang tak berkesudahan, dan mengembalikan roda dharma pada tempatnya,
dengan menanggung jalan hidupnya. Disamping mengikuti dendam ayahnya
Drupadi juga perempuan yang punya perasaan terhadap lelaki.



Dalam suatu kesempatan Khrisna menjawab pertanyaan Drupadi:

Permohonan Drupadi di kabulkan dewata agung tetapi karena

manusia memang tidak ada yang sempurna maka takdir Drupadi

harus menikah dengan 5 orang pria yang masing-masing mewakili kesempurnaan

(Yudisthira = kebijaksanaan, Bhima = Kekuatan, Arjuna – Keterampilan, Nakula =

Kecakapan Fisik, Sadewa = Kecerdasan ) dan takdir ini mengambil jalan melalui

ucapan Kunti yang mengatakan “bagilah dengan saudara-saudaramu”
















akhir dari kehidupan para ksatria pandawa dan tujuan akhir yang dicari dalam kehidupannya:


 pada
hari yang telah ditetapkan, para Ksatria Pandawa bersama Drupadi
meningalkan istana dengan perasaan pilu diiringi isak tangis keluarga
dan rakyatnya. Tidak sepotong pun harta dunia yang dibawa, bahkan
pakaian pun terbuat dari kulit. Ketika mereka keluar dari istana seekor
anjing mengikuti dari belakang. Mereka berjalan ke arah timur masuk
hutan keluar hutan, kemudian berbelok ke selatan dan akhirnya sampai di
pegunungan Himawan (Himalaya) yang di situ terbentang alam terbuka
gurun pasir yang terhampas luas sejauh mata memandang. Gurun itulah
yang akan mereka tempuh. Setelah bersemadi beberapa saat, mulailah
mereka memasuki istana alam di bawah teriknya sinar matahari menyengat
sekujur badan








bersambung 



sumber : sangkan paraning dumadi 



0 komentar:

Posting Komentar