Jumat, 08 April 2011

Engkle: Permainan Anak di Betawi Yang Berasal Dari Pemujaan Setan di Babilonia Kuno


jagad misteri ;Anda tahu permainan anak di Betawi yang gambarnya susunan kotak-kotak
dengan puncaknya berbentuk setengah lingkaran? Ya yang itu. Permainan
ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan, namun kadang juga ada anak
laki-laki. Adapun gambar yang dibentuk di atas tanah biasanya dengan
berbentuk persegi empat (yang dinamakan rumah) dengan formasi 8 ditambah
gunungan di bagian ujung.

Di Betawi, permainan ini disebut
Engkle. Dinamakan engkle, karena dalam permainan ini setiap pemain harus
melakukan engkle atau berjingkat (hopscotch) dengan satu kaki untuk
melewati 7 bagian rumah dan mencapai puncaknya pada tangga ke 8 di atas
lingkaran gunung.

Namun apakah anda tahu Engkle sebenarnya
berasal dari pemujaan setan di peradaban Kuno lalu berkembang di Eropa
Barat dengan istilah Sudamanda?

Annemari Schimel, pengkaji
peradaban kuno, dalam buku terkenalnya Mysteries of Numbers (Oxford:
1994), menyatakan Sudamanda adalah permainan paganis dan mistik yang
lahir dari peradaban Babilonia kuno, ketika Dewi Ishtar mengunjungi
dunia rendah, dia harus menanggalakn sepotong pakaiannnya di tiap 7
pintu yang dilalui.

Dalam misteri-misteri Mithras, orang-orang
yang benar-benar ahli akhirnya mencapai pintu ke 8 yang merupakan pintu
cahaya dimana mereka harus telanjang, menanggalkan seluruh sifat materi,
dan siap kembali ke dunia spiritual.

Tujuh tingkat ini pula lah
yang menjadi inisiasi dasar konsep Kristen tentang 7 tempat penyucian
dimana ia berasal dari pemujaan kepercayaan Mithras dan ide-ide kuno
tentang pendakian manusia menuju langit-langit berbintang.

Konsep
serupa juga ditemukan dalam pemujaan-pemujaan dukun di Siberia ketika
sang dukun sering muncil dengan memiliki 7 irisan, dan dukun Samoyed
tidak sadarkan diri selama 7 hari 7 malam sebelum dia mengemban
tugasnya. Ia juga makan jamur berbintik 7 dan melakukan ritus-ritus yang
berisikan angka 7.

Sebuah permainan anak seperti Sudamanda,
lanjut Schimmel, datang ke Jerman dan Inggris melalui bala tentara
romawi. Dalam permainan ini, seorang anak melompat melewati gambar
seperti tanggah di atas tanah, dan tangga terakhir di kotak kedelapan
disebut surga atau neraka.




Siapakah Dewi Ishtar?

Ishtar
dalam konteks babilonia kuno adalah dewi kesuburan, cinta, perang, dan
hubungan seksual. Dalam susunan masyarakat dewa Babilonia, ia adalah
dewi perwujudan planet Venus. Penyembahan kepada Ishtar erat kaitannya
dengan kesuburan. Selain kesuburan dalam konteks seksual, juga kesuburan
dalam konteks bercocok tanam.

Ketika lamanya siang dan lamanya
malam dalam 1 hari mulai sama, penduduk Mesopotamia memahami bahwa ini
adalah tanda berakhirnya musim dingin dan awal musim panas. Musim ini
disebut dengan musim semi. Ini merupakan tanda dimulainya waktu untuk
bertani.

Adalah suatu tradisi dalam masyarakat paganisme di
daerah Mesopotamia untuk menyembah menghadap ke timur, tempat matahari
terbit, untuk penyembahan kepada dewa matahari, yaitu Baal dan juga
menyembah kepada Ishtar untuk kesuburan tanah dan juga untuk kesuburan
dalam praktek-praktek seksual. Penyembahan kepada Ishtar ini juga erat
kaitannya dengan orgi.

Bagi peradaban kuno, bumi digambarkan
betina sedangkan matahari adalah pejantannya. Dan Ishtar adalah
perlambang dewi Bumi yang tertinggi kedudukannya. Di seluruh Asia Barat,
Bunda yang agung dipuja dengan berbagai nama. Bahkan ketika bangsa
Yunani menduduki Asia Kecil ada suatu ciri kuil tertentu untuk
memuliakannya.

Bertrand Russel, dalam bukunya A History of
Western Philosophy (Sejarah Filsafat Barat) (1945), menyatakan bahwa
model dewi kesuburuan seperti Ishtar menyebar hampir di seluruh
peradaban. Jika kita membaca sejarah Agama Kuno, inilah sebenarnya asal
mula suatu dewi bangsa Ephesus yang biasa disebut Diana.

Kita
juga mengenal Dewi Anat di Kanaan, lalu ada Isis di Mesir, Inana di
Sumeria Kuno, Aphrodite di belahan Yunani, Devaki di India, Fortuna di
Romawi, atau Shing Moo di China. Dari sini kemudian, mereka melakukan
berbagai ritus-ritus penyembahan, termasuk Sudamanda yang masuk ke
Indonesia dan dimainkan oleh anak-anak kita dengan istilah engkle.

Mengapa Islam Tidak Memainkan Sudamanda?

Jika
mempelajari sejarah kuno, kita akan mendapatkan fakta bahwa
peradaban-peradaban masa lampau pada umumnya selalu menafsirkan konteks
alam gaib atau Tuhan dalam sudut kompleks.

Mereka kemudian
membutuhkan sebuah bentuk untuk setidaknya menyederhanakan rumitnya alam
gaib agar sedemikian rupa bisa mereka terima dengan nalar yang tentunya
juga sederhana pada waktu itu.

Sudamanda adalah bagian dari
bagaimana konteks alam gaib yang kompleks itu dapat disederhanakan lalu
dilaksanakan. Dengan mengambil bentuk gambar, manusia akan lebih mudah
menjalankan ritual dan praktik mereka dalam menyembah dewa-dewi paganis.

Tentu
ini berbeda dalam agama kita, Islam. Sebab Allah dalam agama mulia ini,
tidak perlu kita simbolkan menjadi sebuah berhala agar semua Umat Nabi
Muhammad SAW percaya akan keesaan Allah.

Nabi Muhammad SAW,
lelaki yang jenius itu, telah secara cerdasnya mengajak kita semua ke
jalan tauhid dengan melakukan pembedaan atas Tuhan-tuhan palsu yang
dibuat oleh Kaum Kafir Quraisy dalam bentuk berhala.

Oleh
karenanya, alangkah wajar jika sisi Keislaman yang pertama-tama
diperkenalkan oleh baginda kepada umatnya adalah Tauhid: sebuah
pembedaan untuk melakukan identifikasi atas sesembahan lainnya. Inilah
yang akan kita mengerti mengapa saat Nabi Muhammad SAW melakukan
revolusi pembebasan Mekkah ia juga menghancurkan patung-patung.

Allah
SWT sekalipun tidak terlihat oleh manusia secara wujud, tidak
menjadikan hambaNya mengambil bentuk gambaran visual keberhalaan seperti
kaum kafir Quraisy dengan bebatuannya. Dasar keimanan seorang muslim
terhadap hal ghoib menjadikan Islam menampik ritus-ritus yang manusia
buat-buat sendiri sendiri seperti kepercayaan Mithras dengan
Sudamanda-nya.



Islam
juga tidak mengenal Tuhan yang menurunkan rezeki jika pemeluknya
membuatkan patung-patung dan memintakan kesuburan. Lihatlah surah Al
Huud ayat enam, sebuah kalimat yang meruntuhkan klaim itu.

“Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh).”
(QS. Huud : 6)

Allah juga menekankan
sekalipun Ia tidak terlihat secara fisik, namun Ia Maha Mengetahui
sebagai pemilik semesta alam semesta ini apa-apa saja yang terjadi di
muka bumi. Di dalam surat Al-An'am ayat 59, Allah telah berfirman,

"Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di
daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan
Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam
kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."


Inilah jawaban mengapa Islam tidak memainkan Sudamanda seperti bangsa Eropa dan Babilonia kuno. Allahua’lam (pz)

Sumber : http://www.eramuslim.com/

0 komentar:

Posting Komentar