Selasa, 20 Maret 2012

Mengenal Ilmu Gendam Asmaradhana

gendam asmaradhana
Silang pendapat tentang kapan dan siapa yang mula pertama menggunakan nada atau ritme dari kidungan asmaradhana sebagai gendam asmara atau ilmu pelet, tak ada yang mampu menjawabnya dengan pasti. Ada yang menyatakan sebagai karya Sunan Kalijaga, tetapi, banyak pula yang menepisnya. Terlepas dari silang pendapat yang tersebut di atas, menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, pada mulanya, hanya yang menguasai ilmu batin tingkat tinggi saja yang mampu menggunakan ilmu yang satu ini. Hal tersebut akan tampak dengan jelas jika kita mau merunut ke belakang barang sejenak, khususnya dalam gerakan ilmu silat. 

Pada zaman itu, suatu pelontaran tenaga dalam lewat jurus-jurus pamungkas yang dilakukan oleh seorang pendekar pilih tanding banyak yang diilhami oleh bentuk aksara, baik Aksara Jawa maupun Huruf Hijaiyah. Dengan hanya mencoret-coret atau menuliskan sesuatu di udara kosong, tetapi, hasilnya benar-benar luar biasa. Keadaan sekeliling bisa porak poranda, bahkan, lawan bisa tewas dan pepohonan pun berhumbalang tak tentu arah akibat terkena terjangan angin tenaga dalam yang keluar dari jari telunjuk si pendekar.  

Ini merupakan bukti betapa tata napas yang sempurna, mantra yang ampuh, ditambah dengan penyatuan cipta, rasa dan karsa yang mumpuni, maka, seseorang akan mampu menggulung jagat trigati yang ada dalam tubuhnya sehingga menghasilkan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Inilah kemampuan tiwikrama dari seseorang.
Waktu terus berlalu, seiring dengan perkembangan zaman, maka, kian terasa betapa budaya spiritual yang diwariskan oleh para nenek moyang ternyata masih sangat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan umat manusia. Terutama bagi yang benar-benar mau menjalankan olah batin yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkan — sebab, apabila tidak dijalankan dengan saksama, segala sesuatu yang bersifat gaib akan sia-sia belaka. Dengan kata lain dapat dikatakan, semakin seseorang mampu mendekatkan diri pada Sang Maha Hidup, yakni senantiasa selalu melakukan gerakan dan kegiatan olah batin yang sempurna, maka, ilmu yang dikuasainya akan menjadi semakin sempurna karena ijabahNya.

Selaras dengan keterangan yang tersebut di atas, setelah menjalankan tata laku dan membaca mantranya dengan sempurna ditambah mampu membayangkan wanita yang dituju tanpa bergerak sama sekali, maka, seseorang akan mampu melontarkan kekuatan Gendam Asmaradhana seiring dengan bertiupnya pawana (angin-pen) untuk menggugah perasaan dan hati dari wanita yang dituju. Hasilnya pun benar-benar luar biasa, dalam waktu singkat, si wanita pun akan langsung datang bersimpuh dan menghiba untuk mengharapkan balasan cintanya. Itulah sebabnya, kenapa ilmu Gendam Asmaradhana ini tidak boleh untuk main-main dan hanya diturunkan kepada murid-murid kinasih saja.

Warta berkisah, sejak zaman Mataram, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, boleh dikata, Kidung Asmaradhana sudah amat pupuler di tengah-tengah masyarakat. Tak ada yang bisa memungkiri, kepopuleran tembang yang berisi mantra atau pitutur luhur (petunjuk hidup yang baik dan benar-pen) sejajar dengan Kidung Megatruh, Kinanti, dan Mijil yang acap dilantunkan dalam keseharian. Mulai dari pagelaran kesenian, khususnya wayang kulit, sampai dengan menunggu kelahiran sang jabang bayi.
Karena mengandung makna sebagai cinta yang selalu menyala-nyala dan gairah yang tak terpadamkan, maka, bukan tak mungkin Kidung Asmaradhana mengilhami para guru spiritual untuk mengubah syair dan menjadikan kidungan yang satu ini sebagai upaya menjerat cinta lawan jenisnya. Perlahan tetapi pasti, akhirnya, Kidungan Asmaradhana pun menjadi suatu ajian yang banyak digunakan oleh para pembesar di zaman dahulu untuk mengumpulkan selir-selirnya.

Pada masa saat itu, semakin banyak mengumpulkan selir, maka, seseorang akan semakin meningkat pula status sosialnya. Apa lagi, dalam hidup dan kehidupan manusia jawa, seorang lelaki baru akan dikatakan lengkap bila dirinya telah memiliki wisma (rumah-pen), turonggo (kuda, artinya kendaraan-pen), kukilo (peliharaan-pen), curigo (senjata-pen) dan garwo (istri).

Secara umum, ilmu pelet Gendam Asmaradhana ini memiliki tiga tingkatan yang satu sama lain berbeda kekuatannya. Dimulai dari tingkat dasar, madya dan terakhir sempurna yang sudah barang tentu, tingkatan tersebut baru bisa dicapai bila seseorang telah mampu menjalankan ritualnya secara utuh, tidak terpotong-potong minimal 7 hari dan maksimal 41 hari.

Di dalam khazanah ilmu pelet yang ada di Tanah Jawa, pengamalan dan ritual yang harus dilakukan oleh seseorang untuk menguasai ilmu pelet tingkat tinggi ini adalah dengan cara menggabungkan antara Ilmu Jawa dengan Islam Persia — tegasnya, penggabungan antara mantra Gendam Asmaradhana dengan ilmu Lil Mahabbah Jauzun, suatu ilmu yang diyakini dapat digunakan untuk menjaga hubungan antara suami istri agar tidak terjadi perselingkuhan di antara keduanya.

Sumber : Brem Putradewa (Misteri)

0 komentar:

Posting Komentar