Minggu, 11 September 2011

peti mati berpindah Barbados

0 komentar





Di Barbados, ada sebuah makam yang bernama Chase Vault. Makam ini tidak seperti makam biasa yang kita kenal. Bangunannya besar dan bisa memuat banyak peti mati di dalamnya. Namun, misterinya bukan disitu. Ada peristiwa aneh yang terjadi pada makam ini. Sepertinya, peti-peti mati yang ditaruh di dalamnya bisa berpindah dengan sendirinya.









Misteri ini dikenal dengan nama peti mati berpindah Barbados dan sudah menjadi subyek tulisan beberapa peneliti.





Kisahnya dimulai pada tahun 1724.





Pada tahun itu, seorang pria bernama James Elliot membangun sebuah makam bawah tanah yang besar. Pintu makam itu terbuat dari sebuah marmer besar yang berat dan dirancang dengan cara yang khusus. Saking beratnya batu itu, dibutuhkan sekitar 6-7 orang untuk menggesernya.





Chase Vault


Ketika makam itu ditutup, celah pada marmer besar itu akan disemen sehingga tidak gampang untuk dibuka. Jika suatu hari pintu makam itu hendak dibuka kembali untuk menguburkan seseorang, maka semen tersebut harus dikikis kembali. Setelah proses pemakaman selesai, marmer itu digeser dan harus disemen kembali.



Demikianlah makam itu dirancang sedemikian rupa.



Bagian Dalam Chase Vault


Walaupun telah bersusah payah membangunnya, Elliot tidak pernah dimakamkan di tempat itu. Tempat itu dibiarkan kosong hingga tanggal 31 Juli 1807 ketika Mrs.Thomasina Goddard dimakamkan di tempat itu. Jenazah Mrs.Goddard diletakkan di dalam sebuah peti mati kayu.



Pada tahun 1808, makam itu dibeli oleh keluarga Chase, salah satu keluarga yang kaya raya dan disegani di Barbados. Karena perubahan kepemilikan itu, makam itu itu kemudian diberi nama Chase Vault yang artinya Makam keluarga Chase.



Thomas Chase, pemimpin keluarga Chase, adalah salah seorang yang paling dibenci di Barbados. Menurut salah satu catatan di people's almanac:



"Kepala keluarga itu adalah seseorang yang memiliki tabiat yang jahat, ia begitu kejam terhadap budak-budaknya sehingga mereka sering mengancam akan membunuhnya."



Pada tanggal 22 Februari 1808, anak bungsu Thomas yang bernama Mary Ann Chase yang baru berusia 2 tahun meninggal dunia dan jenazahnya dibawa ke Chase Vault untuk dimakamkan.



Pintu makam itu dibuka, Peti mati Mary Ann yang terbuat dari timah yang berat kemudian dibawa masuk ke dalamnya dan ditaruh disamping peti mati Mrs.Goddard.



Pintu Chase Vault pun ditutup kembali dengan marmer besar itu dan disemen.



Setelah kematian Mary Ann, perlahan-lahan, Chase Vault mulai diisi oleh jenazah anggota keluarga Chase lainnya.



Pada tanggal 6 Juli 1812, hanya 5 tahun setelah kematian Mary Ann, Anak Thomas lainnya yang bernama Dorcas Chase, juga meninggal. Beberapa orang mengatakan kalau Dorcas telah bunuh diri dengan cara mogok makan karena depresi dengan ayahnya.



Mayat Dorcas dibawa ke Chase Vault dan peti matinya yang juga terbuat dari timah yang berat diletakkan di tempat itu bersama peti mati Mrs.Goddard dan Mary Ann.



Hanya beberapa minggu setelah penguburan Dorcas, Mr.Thomas Chase, sang kepala keluarga, meninggal dunia karena bunuh diri. Mayatnya ditaruh ke dalam peti timah seberat 108 kilogram dan dibawa ke Chase Vault.



Inilah awal dari misteri yang membingungkan.



Ketika pintu makam itu dibuka, para pengurus pemakaman kaget karena menemukan peti-peti mati yang sudah ada di dalamnya berada pada posisi yang tidak semestinya. Peti mati Mary Ann Chase telah bergeser ke sudut lainnya.



Anggota keluarga Chase yang melihat itu menjadi sangat marah dan mengira ada penjarah makam yang telah mengacaukan peti-peti mati itu. Namun, mereka tidak menemukan benda apapun yang hilang dari makam itu.



Peti mati Mary Ann kemudian dikembalikan ke posisi semula dan pintu Chase Vault kembali ditutup.



Tetapi, misteri itu tidak berakhir disini.



Pada tanggal 25 September 1816, empat tahun setelah pemakaman Thomas Chase, makam itu kembali dibuka. Kali ini untuk menampung jenazah Charles Brewster Ames yang berusia 11 tahun.



Sekali lagi, mereka menemukan semua peti mati telah berpindah tempat, termasuk peti mati Thomas Chase yang sangat berat. Satu-satunya peti mati yang tidak berubah posisi hanyalah peti mati kayu milik Mrs.Goddard.



Petugas pemakaman kemudian memerintahkan agar peti-peti mati itu dikembalikan ke posisinya yang semula. Saking beratnya peti mati Thomas Chase, dibutuhkan delapan pria untuk memperbaiki posisinya.



Pintu masuk Chase Vault kembali ditutup rapat.



52 hari kemudian, tepatnya tanggal 17 November 1816, pintu Chase Vault kembali dibuka. Kali ini untuk menerima jenazah Samuel Brewster Ames.



Sekali lagi, para pengurus pemakaman menemukan peti-peti mati di dalamnya telah berubah posisi. Dan sama seperti sebelumnya, peti mati kayu Mrs.Goddard adalah satu-satunya peti mati yang tidak berpindah tempat.



Jadi, untuk ketiga kalinya mereka mengembalikan semua peti mati itu kembali ke posisinya yang semula.



Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1819, makam itu kembali dibuka untuk menerima jenazah Thomasina Clark. Berbeda dengan peti mati sebelumnya, jenazah Clark ditaruh di dalam peti mati kayu.



Ketika pintu makam dibuka, mereka kembali menemukan peti-peti mati di dalamnya berada dalam posisi yang berantakan.


Empat kejadian misterius ini kemudian menarik perhatian gubernur Barbados, Lord Combermere, yang disebut-sebut turut menghadiri pemakaman Clark.



Sang Gubernur kemudian memerintahkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap makam itu. Namun tidak ditemukan satupun tanda-tanda perusakan ataupun jalan rahasia menuju makam itu.



Jadi, peti-peti mati itu kembali disusun seperti semula.



Peti mati Mr.Goddard yang terbuat dari kayu telah mengalami lapuk yang luar biasa sehingga orang-orang mengikat peti itu dengan tali untuk mencegahnya lepas berantakan dan kemudian menaruhnya di sudut bersentuhan dengan dinding.



Setelah itu, pasir ditaburi ke lantai makam untuk mendeteksi adanya jejak kaki.



Lalu, pintu Chase Vault kembali ditutup. kali ini bukan hanya ditutup, Lord Combermere bahkan menyegel pintu makam itu dengan segel gubernur.



Tanggal 18 April 1820, delapan bulan setelah penguburan Thomasina Clark, Chase Vault kembali dibuka, bukan untuk menerima jenazah baru, melainkan untuk memenuhi permintaan Lord Combermere yang ingin tahu kondisi di dalam makam.



Ketika pintu makam dibuka, Sekali lagi, semua peti mati di dalamnya telah berpindah posisi. Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, peti mati kayu Mrs.Goddard adalah satu-satunya yang tidak berpindah.



Posisi sebelum




Posisi setelah diperiksa


Tidak terlihat adanya jejak kaki di pasir di lantai makam.



Bagaimana peti-peti mati itu bisa berpindah?



Mereka yang memeriksanya tidak menemukan tanda-tanda kalau ini adalah ulah tangan manusia. mereka juga tidak menemukan adanya sisa-sisa genangan air atau banjir yang mungkin bisa menggeser peti-peti mati itu. Beberapa orang mengajukan kemungkinan gempa bumi, tetapi dalam rentang waktu itu, tidak terjadi gempa bumi di Barbados.



Karena penyelidikan yang dilakukan tidak membawa hasil apapun, keluarga Chase memutuskan untuk tidak menggunakan makam itu lagi. Chase Vault kemudian diabaikan begitu saja dan peti-peti mati yang ada di dalamnya dipindahkan dan dikuburkan di tempat lain.



Makam itu masih ada hingga sekarang dan dibiarkan kosong.



Kisah mengenai peti mati berpindah Barbados ini pertama kali dipublikasikan oleh Sir JE Alexander dalam bukunya yang berjudul "Transatlantic Sketches" yang terbit tahun 1833. Setelah itu, masih ada beberapa tulisan lagi yang menceritakan kisah mengenai misteri ini.



Pada Desember 1907, Andrew Lang, seorang peneliti kisah-kisah rakyat dari Inggris mencoba untuk meneliti kebenaran kisah ini. Ia menyusuri sejumlah dokumen yang berasal dari Barbados, termasuk catatan pemakaman dan surat kabar setempat.



Lang tidak bisa menemukan adanya berita mengenai fenomena ini di surat kabar ataupun catatan pemakaman pada waktu peristiwa ini disebut terjadi. Namun, ia menemukan ada satu catatan yang tidak dipublikasikan yang berasal dari Nathan Lucas yang mengaku menjadi saksi saat Chase Vault dibuka untuk terakhir kalinya pada tahun 1820.



Lang, tidak bisa memberikan kesimpulan pasti.



Usaha penelitian yang berikutnya datang dari penulis modern bernama Joe Nickell lewat bukunya "Barbados restless coffins laid to rest" yang terbit tahun 1982.



Nickell percaya kalau peristiwa peti mati berpindah itu sama sekali tidak pernah terjadi. Menurutnya, kisah ini hanyalah sebuah Masonic Hoax.



Maksudnya adalah, kisah ini hanya sebuah alegori yang berisi kisah mengenai ruang rahasia yang menurut teks Masonic merupakan misteri purba, simbol kematian dimana kebenaran Ilahi bisa ditemukan.



Nickell menghubungkan kisah peti mati berpindah dengan misteri harta karun pulau Oak yang juga dipercaya sebagai Masonic Hoax lainnya.



Sama seperti Alegori Masonic lainnya, kisah ini dipercaya hanya dibuat oleh para Mason sebagai sebuah kisah simbolis yang tidak pernah terjadi di dunia nyata dan hanya ditujukan sebagai pengajaran bagi para anggota Freemason lainnya.



Nickell juga mengutip bukti yang berasal dari perkataan Lucas:



"Aku sudah memeriksa seluruh dindingnya, lengkungannya dan setiap bagian dari Chase Vault dan menemukan kalau setiap bagian telah berusia tua dan mirip; dan seorang Tukang batu (Mason) di dekatku memukul setiap bagian bawah makam itu dengan palunya, dan ternyata semuanya padat."



Salah satu kutipan mengenai suara palu ini bisa ditemukan di Macoy's Illustrated History and Encyclopedia of Freemasonry dimana dikatakan kalau para Mason menghormati dentuman suara palu sang Master yang melambangkan otoritas.



Masih menurut Nickell, Penggunaan kata "Mason" untuk menyebut tukang batu oleh Lucas cukup menarik. Nickell menduga kalau Lucas sendiri adalah seorang Mason yang berpartisipasi dalam pembuatan alegori itu.



Nickell juga percaya kalau para Mason ternama lainnya ikut berpartisipasi dalam kisah alegori ini dan membantu menutup-nutupinya, seperti Sir Arthur Conan Doyle yang pernah membahas soal Chase Vault pada artikel tahun 1919 di surat kabar "The Strand". Dalam artikel itu, Doyle menggunakan kata "Effluvia" yang berarti kuburan.



Kata itu, umumnya hanya dimengerti oleh para Mason.



Teori Nickell dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai misteri ini.



Namun, luar biasanya, walaupun kisah ini dianggap sebagai hoax, misteri serupa disebut pernah terjadi di makam di Stanton, Suffolk, dan di pemakaman Lutherian di pulau kecil Oesel di laut Baltik. Kedua misteri tersebut sama-sama terjadi pada abad ke-19 dan sama-sama belum terpecahkan.



(wikipedia, carribbeantravelforums.com)


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Sabtu, 10 September 2011

Count St. Germain yang misterius

0 komentar





Di tengah-tengah berkembangnya filsafat dan seni di Eropa pada tahun 1700an, muncul seorang pria misterius yang dipercaya mengetahui segalanya dan tidak pernah mati.









Pria tersebut adalah Comte de saint Germain atau Count St.Germain. Banyak legenda yang tercipta di sekeliling kehidupannya. Ada yang percaya kalau ia adalah manusia abadi yang telah berusia 2.000 tahun dan bahkan mengenal Yesus secara pribadi. Ada yang mengatakan kalau ia adalah reinkarnasi dari orang-orang besar seperti Plato atau Hesiod. Ada lagi yang percaya kalau ia adalah orang yang sama dengan Merlin, sang penyihir penasehat raja Arthur, dan banyak lagi.





Hanya sedikit yang bisa diketahui dari kehidupan St.Germain. Sebagian orang menyebutnya sebagai keturunan Yahudi Alsatian, Yahudi Portugis atau bahkan keturunan raja Portugis. Ia fasih dalam berbagai profesi yang dijalaninya: petualang, penemu, herbalis, alkemis, pianis, pemain biola dan komposer.





Ia memiliki banyak permata dan emas yang dibawanya kemana-mana. Dalam satu kesempatan, ia mengatakan kalau ia memiliki kemampuan untuk mengubah logam dasar menjadi emas dan mampu mengubah beberapa permata kecil menjadi satu permata yang lebih besar. Bukan hanya itu, ia bahkan juga mengklaim mampu mengubah batu biasa menjadi berlian.





Figurnya yang misterius membuatnya mendapatkan tempat yang begitu mulia di kalangan para penganut okultisme seperti Teosofi yang menjulukinya Master Rakoczi atau Master R yang merupakan salah satu dari para Master kebijakan kuno yang hidup abadi dan dipercaya memiliki kekuatan seperti dewa.





Ia pertama kali muncul ke publik pada tahun 1743 di London dan kemudian di Edinburgh pada tahun 1745 dimana kemudian ia ditangkap karena diduga sebagai mata-mata. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui asal-usul atau keberadaannya sebelum tahun 1743. Ini membuat spekulasi mengenai identitasnya terus berkembang.





Horace Walpole, seorang penulis Inggris kenamaan yang kemudian menjadi temannya, menyinggungnya dalam sebuah surat yang ditulis pada tahun 1745:



"Pada hari itu, mereka menangkap seorang pria aneh bernama Count St.Germain. Ia sudah ada di kota itu selama dua tahun dan ia menolak untuk mengatakan siapa dia sebenarnya dan darimana dia berasal. Namun, ia mengakui kalau nama itu bukan nama aslinya. Ia juga bisa menyanyi dan bermain biola dengan sangat baik."
Ketika diadili, pengadilan tidak bisa menemukan bukti kalau ia adalah seorang mata-mata sehingga ia dilepaskan. Segera setelah itu, ia mendapatkan reputasi sebagai pemain biola yang hebat yang menjalani kehidupan seperti pertapa yang selibat (Tidak menikah).





Pada tahun 1746, ia menghilang dari publik begitu saja.





Count St.Germain - lukisan tahun 1745


12 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1758, ia muncul kembali di Versailles, Perancis. Pada tahun-tahun itu, ia berhasil masuk ke lingkungan istana dan menjadi teman dekat raja Louis XV. Ia juga sering memberikan nasihat mengenai pola makan yang sehat dan kadang memberikan ramuan awet muda kepada keluarga kerajaan. Konon ia mendapatkan pengaruhnya di hadapan raja Louis XV karena pernah mengubah beberapa batu permata kecil menjadi satu permata besar yang kemudian membuat nilainya bertambah.



Kepada beberapa orang yang mengenalnya, ia mengaku telah berusia ratusan tahun walaupun secara fisik ia masih terlihat seperti seorang pria berusia 40 tahun. Di Perancis, juga terungkap kalau ia menguasai banyak bahasa dan memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai sejarah. Pengaruh yang diciptakannya di Perancis cukup besar sehingga filsuf besar Voltaire pernah mengatakan kalau Count St.Germain adalah "pria yang tahu segalanya dan tidak pernah mati."



Tahun 1760, ia meninggalkan Perancis menuju Inggris karena salah seorang pejabat kerajaan Perancis bernama Duke of Choiseul yang iri melihat kedekatannya dengan raja memerintahkan penangkapannya dengan tuduhan penipuan.



Dari Inggris, ia pergi ke Rusia dan berdiam sementara di St.Petersburg. Kebetulan, pada saat yang sama, militer Rusia melakukan kudeta terhadap raja dan menempatkan Catherine the Great sebagai ratu. Ini membuat banyak orang percaya kalau St.Germain sebenarnya memiliki andil dalam peristiwa itu.



Tahun berikutnya, ia muncul di Belgia, membeli sebidang tanah dan hidup dengan nama alias "Surmont". Kemudian, ia menawarkan metode pewarnaan kain dan ramuan minyaknya kepada pihak kerajaan. Dalam proses penawaran ini, ia bertemu dengan salah seorang menteri Belgia bernama Karl Cobenz.



Kepada Cobenz, Count mengungkapkan kalau ia adalah seorang keturunan raja. Belakangan, Cobenz mengaku kalau ia telah melihat count mengubah segumpal logam menjadi emas. Ini cukup menarik karena seorang menteri kerajaan tidak biasa mengucapkan sesuatu yang bohong.



Cassanova yang termashyur juga pernah melihat Count mengubah logam menjadi emas. Suatu hari, ia mengunjungi laboratorium Count dan memberikannya sebuah koin logam biasa. Tidak lama kemudian, ia melihat koin logam itu telah berubah menjadi emas.



Sekarang, orang mulai mengenalnya sebagai seorang alkemis yang juga keturunan raja. Namun, segala sesuatu mengenai pria ini masih kabur dan misterius.



Lalu, ia menghilang kembali selama 11 tahun.



Tahun 1774, ia muncul kembali di Bavaria dengan menggunakan gelar Count of Tsarogy. Di sini ia berjumpa dengan salah satu bangsawan Bavaria bernama Freherr Reinhard Gemmingen.



Dua tahun kemudian ia muncul di Jerman dan menyebut dirinya sebagai Count Welldone dan sekali lagi menawarkan resep-resep kosmetik, anggur, minuman, pengobatan tulang, kertas dan gading kepada kerajaan.



Di hadapan raja Frederick, ia mengaku sebagai anggota Freemasonry dan mengaku memiliki kemampuan mengubah logam menjadi emas. Ia diberi tempat tinggal di kediaman pangeran Karl yang juga anggota Freemasonry dan di tempat itu ia mempelajari obat-obatan herbal untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Ia tinggal di tempat ini hingga tahun yang secara resmi dianggap sebagai tahun kematiannya.



Walaupun telah dikenal di banyak kalangan, kehidupan Count masih diselubungi oleh misteri.



Pernah suatu hari, Count berkata kepada sekumpulan teman-temannya: "Siapa di antara kalian yang pernah melihat saya makan?"



Tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Mereka memang sering melihat Count duduk di meja makan bersama teman-temannya, namun mereka mengakui kalau Count tidak pernah menyentuh makanan yang tersaji.




Orang-orang disekelilingnya menjadi semakin yakin kalau Count telah menemukan rahasia Elixir of Life. Kepada mereka, Count juga sering mengatakan kalau ia telah berumur ratusan tahun dan pernah tinggal di masa Kaldea kuno dan mengetahui rahasia para master dari Mesir.




Dalam kesempatan yang lain, Count sedang duduk di sebuah meja bersama teman-temannya sambil menceritakan sejarah dunia ratusan tahun yang lampau. Untuk sesaat, ia terdiam, lalu menoleh kepada pelayannya sambil bertanya: "Adakah yang saya lewatkan?"




Tanpa diduga, pelayan itu berkata: "Tuan, anda lupa kalau saya baru tinggal bersama anda selama 500 tahun sehingga saya tidak hadir pada saat peristiwa itu. Mungkin pendahulu saya yang mengetahuinya."




Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang luar biasa di Jerman, sebuah kejadian tak terduga terjadi pada tahun 1784.



Pada tanggal 27 Februari 1784, Count St.Germain sedang berada di kastilnya di Eckenform ketika ia disebut menderita pneumonia dan meninggal dunia. Kematiannya disaksikan secara langsung oleh dokter yang merawatnya.



Reputasinya yang dikenal sebagai seorang alkemis membuat banyak orang menyangsikan kalau Count sudah meninggal karena di Eckenform sendiri tidak pernah ditemukan satupun batu nisan bertuliskan namanya.



Mungkin ada benarnya juga kalau tahun itu count belum meninggal karena ada sebuah dokumen resmi Freemasonry yang menyebutkan kalau pada tahun 1785, Freemasonry cabang Perancis telah memilih dia sebagai perwakilan mereka di sebuah konvensi yang diadakan pada tahun itu bersama dengan Mesmer, Saint-Martin dan Cagliostro (yang juga dipercaya sebagai alkemis dan hidup abadi).



Count St.Germain - Lukisan tahun 1784


Tidak sampai disitu, pada tahun 1789, St.Germain disebut muncul di istana Rusia dan disambut sang ratu sendiri. Lalu pada tahun 1789, 5 tahun setelah kematiannya, Comtesse d'Adhemar mengaku berjumpa dengannya dan mengalami percakapan yang cukup panjang di Gereja Recollets.



Pada Comtesse, ia memberikan ramalannya kalau ratu Marie Antoinette akan tewas dengan mengenaskan dan keluarga kerajaan akan hancur berantakan. Setelah itu berkata kalau ia akan pergi ke Swedia untuk menyelidiki raja Gustavius III dan mencoba untuk mencegah terjadinya sebuah kejahatan besar.



Menurut Sang Comtesse, wajah dan penampilan St.Germain terlihat seperti seorang yang baru berusia 30 tahun lebih.



Lalu, pada tahun 1790, Franz Graeffer, seorang temannya yang berkebangsaan Austria mengaku menerima sebuah surat dari Count yang berbunyi:



"Besok malam, aku akan pergi lagi. Aku dibutuhkan di Konstantinopel, lalu aku akan ke Inggris untuk mempersiapkan dua penemuan yang akan kalian miliki di abad berikutnya, yaitu kereta api dan kapal uap. Pada akhir abad ini, aku akan menghilang dari Eropa dan pergi menyepi ke Himalaya. Aku akan berisitirahat, aku harus beristirahat."
Tidak ada yang tahu pasti kemana ia pergi pada tahun berikutnya. Kemunculannya yang berikutnya diketahui dari catatan Comtesse d'Adhemar yang sebelumnya telah berjumpa dengannya pada tahun 1789.



Pada tahun 1821, Comtesse d'Adhemar menulis:

"Setiap kali aku melihatnya, aku selalu takjub. Aku berjumpa dengannya ketika ratu dibunuh pada tanggal 18 di Brumaire dan aku kembali berjumpa dengannya satu hari setelah kematian duke of d'Enghien pada Januari 1815 dan juga sekali lagi pada malam kematian Duke de Berry."
Pada tahun 1821 itu, Mademoiselle de Genlis juga mengaku berjumpa dengan St.Germain selama negosiasi di Winna. Kesaksian ini diteguhkan oleh Comte de Chalons.



Apakah benar St.Germain masih hidup pada tahun itu?



Banyak orang yang mempercayai hal itu.



Pada tahun setelah tahun 1821, seorang penulis Inggris bernama Albert Vandam mengatakan kalau ia pernah berjumpa dengan seorang pria misterius yang mirip dengan Comte de Saint Germain.

"Ia menyebut dirinya Mayor Fraser. Ia hidup sendiri dan kaya raya. Ia juga memiliki pengetahuan luas mengenai Eropa dan dalam beberapa kesempatan, ia berkata kalau ia mengenal Nero dan telah berbicara dengan Dante."
Sama seperti St.Germain, Mayor Fraser juga terlihat seperti seorang pria berusia 40 tahun dan menghilang begitu saja pada tahun-tahun berikutnya. Menariknya, pada tahun 1820, seseorang bernama Mayor Fraser menerbitkan sebuah buku yang menceritakan mengenai perjalanannya ke Himalaya dimana ia berhasil mencapai Gangotri, yaitu sumber paling suci dari sungai Ganga dan mandi di sana. Ini sesuai dengan surat Count yang ditulis untuk sahabatnya. Jadi, banyak yang percaya kalau Mayor Fraser sesungguhnya adalah Count sendiri.



Pada tahun 1835, Count disebut muncul lagi di Paris, lalu di Milan tahun 1867 dan di Mesir pada tahun-tahun berikutnya. Napoleon bahkan disebut pernah bertemu dengan dirinya dan masih menyimpan catatan mengenainya.



Setelah itu, salah seorang pemimpin Teosofi bernama Annie Besant mengklaim kalau ia bertemu St.Germain pada tahun 1896 dimana sang guru mengajarkan kepadanya berbagai hikmat.



Anggota Teosofi lainnya bernama CW.Leadbeater juga mengklaim bertemu dengan St.Germain di Roma tahun 1926. Leadbeater mengatakan kalau saat itu, St Germain menunjukkan kepadanya sebuah jubah yang pernah dipakai salah seorang kaisar romawi.



Anggota Teosofi lainnya bernama Guy ballard juga mengaku pernah berjumpa dengan Count. Namun, kesaksiannya kali ini sedikit berbeda karena Ballard mengklaim kalau Count memperkenalkannya dengan para pengunjung dari Venus. Ballard bahkan menulis sebuah buku mengenai hal ini.



Jika melihat dari kehidupannya, maka sebenarnya tidak ada yang aneh dari Count St.Germain. Ia mungkin memang keturunan raja yang memiliki banyak keahlian, suka menghilang selama beberapa tahun dan memiliki kharisma yang luar biasa. Satu-satunya misteri yang ada padanya hanyalah rumor yang menyebutkan kalau ia adalah seorang alkemis yang mampu mengobah logam dasar menjadi emas (Philosopher's Stone) dan telah menemukan rahasia umur panjang (elixir of life).



Annie Besant pernah mengadakan penyelidikan mengenainya dan ia percaya kalau St.Germain adalah anak dari pangeran Transylvania bernama Francis Racoczi yang diasingkan oleh kerajaan. Pendapat ini dikonfirmasikan oleh fakta kalau salah satu dari anak-anak pangeran Racoczi yang dibesarkan oleh pihak keluarga kerajaan Austria pergi meninggalkan kerajaan Austria. Penulis lain bernama Raymond Bernard percaya kalau Count sebenarnya adalah Francis Bacon yang juga dipercayainya sebagai tokoh yang menulis dengan menggunakan nama Shakespeare.



Tapi, tetap saja tidak ada yang aneh dengan hal itu.



Beberapa peneliti yang skeptis percaya kalau legenda Count terlalu dibesar-besarkan. Rumor-rumor mengenai kehebatannya bisa saja tersebar akibat isu yang dihembuskan banyak orang yang mengenalnya.



Misalnya, tidak berapa lama setelah tahun kematiannya, seorang komedian Inggris bernama Milord Gower mulai menirukan karakter Count dalam aksi panggungnya. Tidak bisa disangkal kalau ia lebih menekankan pada sisi satir dibanding fakta, misalnya dengan mengatakan kalau Count adalah seorang alkemis yang hidup abadi dan bahkan mengenal Yesus.



Rumor seperti ini mungkin telah menyebabkan pengkultusan terhadap pribadi Count. Pengkultusan ini kemudian dinyalakan kembali oleh kaum esoterik yang anggota-anggotanya menulis banyak buku mengenai pria ini. Namun, sama seperti tokoh misterius lainnya di dalam sejarah, kita mungkin tidak akan pernah bisa memastikan identitasnya, entahkah ia seorang penipu, mata-mata, pesulap atau benar-benar seorang alkemis yang telah menemukan rahasia Elixir of Life.





(wikipedia, crystalink.com)


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Gambar misterius seluruh dunia

0 komentar









dua wanita dengan leher yang indah nan panjang ... hehe... ^^


sapi berkaki enam ...

manusia buaya .. rumornya sih karena di kutuk ??? bener ngga sih ???


pohon yang sedang menari ... nari apa yach ??? balet mungkin ???


wanita dengan kuku terpanjaaaaaaa...ang ... ^^v


manusia ikan, nah ini juga .. rumor nya di kutuk karena durhaka dengan orang tua .... tapi bener ngga yach ????


wow...
yang mau tinggi tapi jangan setinggi ini dech .. malah jadi pusat
perhatian manusia seluruh dunia .... hahaa... ini dia manusia tertinggi
di dunia ......


ular putih berkaki ....




manusia terkecil di dunia .. peri kah ??? peri tak bersayap ??? :) atau EMBRIO ???



anak ikan peri yang bergaya ....



bayi berkepala dua satu badan .. subhanalllah ....




wanita berkaki 4 .....



bayi super ..... subhanallah ..... ^^






silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

Jumat, 09 September 2011

Misteri paling membingungkan dalam sejarah Australia

0 komentar





Indeed, indeed, Repentance oft before. I swore--but was I sober when I swore?

And then and then came Spring, and Rose-in-hand. My thread-bare Penitence a-pieces tore.

The Rubaiyat - Ommar Khayam










01 Desember 1948, Pantai Somerton, Adelaide, Australia.

Pada pukul 6.30 pagi, seorang pria bernama J Lyons menemukan sesosok mayat pria tidak dikenal. Saat itu, Ia tidak menyadari bahwa penemuan ini akan menjadi salah satu kasus paling misterius di Australia.





Misteri ini sering disebut sebagai kasus Taman Shud (Kadang ditulis "Tamam Shud") atau Misteri pria dari Somerton. Dan kasus ini dianggap sebagai salah satu kasus tidak terpecahkan paling aneh didalam sejarah Australia.





Mayat di Somerton

Pada tanggal 30 November 1948, satu hari sebelum penemuan mayat itu, sepasang muda-mudi bernama O'Neill dan Strapps sedang berjalan-jalan di pantai itu. Mereka kemudian melihat mayat itu tergeletak di dekat dinding penahan ombak. Awalnya mereka mengira pria tersebut sedang tertidur atau tidak sadarkan diri karena mabuk.





"Sepertinya aku harus melihatnya, jangan-jangan terjadi apa-apa." Kata O'Neill. Strapps kemudian menimpali,"Jangan terlalu ingin tahu. Siapa tahu ia sudah mati." Katanya sambil bercanda.





Jadi mereka berdua membiarkannya. O'Neill dan Strapps kemudian meneruskan berjalan-jalan di pantai itu selama setengah jam. Dalam rentang waktu tu, mereka melihat pria itu tidak bergerak sama sekali. Lalu, mereka pulang ke rumah.





Esok paginya sekitar pukul 6.30, seorang pria bernama Lyons baru saja selesai berenang bersama teman-temannya. Lalu, matanya tertuju kepada pria yang tergeletak itu.





Ia menjadi curiga dan kemudian mendekatinya. Ia memeriksanya dan menyadari bahwa pria tersebut telah meninggal. Lyons segera menghubungi kantor polisi Brighton dan segera kembali ke tempat penemuan mayat.





Petugas polisi bernama Moss bersama rekannya, Strangway, lalu datang ke lokasi dan menjumpai Lyons disitu. Moss yang memeriksa mayat tersebut tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di mayat tersebut. Pakaiannya masih lengkap dan tidak ada tanda-tanda bekas perampokan. Puntung rokok yang baru terbakar sebagian tergeletak di samping kerah kanan jasnya.





Pria itu diperkirakan berusia sekitar 45 tahun dengan kondisi fisik yang sehat. Penampilannya terlihat seperti orang Eropa dan ia mengenakan pakaian yang mahal.





Mayat itu lalu dibawa dengan ambulan polisi ke Rumah Sakit Royal Adelaide. Para dokter yang memeriksa menemukan bahwa pria ini meninggal pada pukul 2 pagi. Mayatnya kemudian dipindahkan ke kamar mayat dan polisi mulai menyelidiki kasus ini.





Karena tidak ada orang yang mengklaim mayat itu, dua hari kemudian, otopsi dilakukan. Dan disinilah sebuah misteri mulai muncul ke permukaan. Petugas otopsi tidak bisa menemukan penyebab kematiannya.



Siapakah dia sebenarnya ?


Mereka memang menemukan tanda-tanda keracunan pada tubuhnya yang terlihat dari banyaknya darah yang berkumpul di perut dan adanya ciri-ciri gagal jantung. Namun anehnya, tidak ditemukan sisa-sisa racun sama sekali di tubuhnya.





Di dalam tubuhnya juga tidak ditemukan bekas luka atau tanda lahir apapun.





Dalam sakunya, ditemukan beberapa benda seperti tiket kereta api menuju pantai Henley yang belum terpakai, sebuah tiket bus menuju Glenelg yang sudah terpakai, dua kotak rokok dengan merek yang berbeda, permen karet dan korek api. Tidak ditemukan adanya uang.





Anehnya, semua merk bajunya telah dihilangkan, sepertinya dilakukan dengan sengaja. Ia juga tidak mengenakan topi yang biasa dipakai oleh pria berjas pada masa itu.





Tangannya halus dengan kuku yang rapi, seakan-akan pria tersebut tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar. Pria ini juga memiliki tubuh yang tinggi dan berbentuk. Bahunya lebar dengan pinggang yang ramping. Telapak kakinya memiliki ciri seperti seorang penari.





Polisi lalu segera melakukan penyelidikan serius atas kasus ini.





Mereka mencetak foto dan sidik jari pria ini dan disebarkan ke seluruh Australia, Selandia Baru dan negara-negara berbahasa Inggris lainnya. Namun, tidak ada satupun informasi memadai atau catatan mengenai pria ini muncul ke permukaan.





Lalu polisi mengawetkan mayat ini pada tanggal 10 Desember 1948 karena tidak biasanya kasus ini.



Sebuah koper misterius di dalam loker


Pada Januari 1949, penyelidikan polisi mulai mendapat titik terang. Petunjuk yang diolah menuntun mereka menemukan adanya sebuah koper yang tersimpan di stasiun kereta Adelaide. Dari identifikasinya, diketahui bahwa koper itu masuk ke loker pada tanggal 30 November. Di dalam koper tersebut ditemukan sepatu, pakaian, piyama, dasi, alat cukur, obeng, sebuah pisau dengan sepasang gunting.





Kondisi koper itu masih baru dan semua merk koper dan tanda-tanda lainnya juga telah dibuang, persis seperti kondisi pakaian mayat. Namun polisi menemukan nama "T Keane" pada sebuah dasi di dalamnya. Lalu nama ini juga ditemukan tertera di kantong laundry yang juga ada di dalam koper tersebut. Polisi percaya bahwa siapapun yang membuang semua merk baju itu telah membiarkan nama itu disitu karena mengetahui bahwa Keane bukan nama pria yang telah menjadi mayat itu.





Kasus ini menjadi semakin misterius karena bahkan media juga tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa mengarah ke identitas pria ini.





Siapa dia ? dan apa yang menyebabkan kematiannya ?



Taman Shud yang misterius


Pada bulan April, lima bulan sejak penemuan mayat, sebuah petunjuk lain muncul ke permukaan. Namun petunjuk kecil ini malah membuat kasus ini menjadi semakin misterius. Prof John Burton Cleland yang meneliti pakaian pria tersebut menemukan sebuah potongan kertas dalam kantung kecil yang tersembunyi di celananya.





Kertas itu bertuliskan dua kata, "Taman Shud".





Dua kata ini terdengar asing bagi para petugas kepolisian. Jadi mereka memanggil petugas perpustakaan untuk menerjemahkannya. Petugas itu mengenali kata itu sebagai bagian dari buku puisi "The Rubaiyat" yang ditulis 900 tahun lalu oleh seorang penyair dari Persia bernama Omar Khayyam.





Dua kata ini kemudian menjadi identik dengan nama kasus ini.





Tema puisi Rubaiyat adalah seseorang harus hidup dengan bahagia dan tidak menyesalinya ketika berakhir. Kata "Taman Shud" dapat ditemukan pada akhir buku puisi tersebut yang berarti "Selesai".





Polisi lalu mengarahkan petugasnya untuk mencari buku Rubaiyat dengan halaman akhir yang hilang. Kemudian, apa yang dicari muncul juga. Liputan media yang luas membawa satu petunjuk baru. Seorang dokter yang tinggal di Glenelg datang ke polisi dan menyerahkan buku The Rubaiyat karangan Omar Khayyam. Halaman terakhir buku itu hilang. Polisi segera melakukan pengujian mikroskopis dan menemukan bahwa potongan kertas yang ditemukan di saku pria tersebut memang berasal dari buku tersebut.





Namun, petunjuk berharga ini tidak memberikan jawaban apapun karena dokter tersebut menemukan buku itu tergeletak di kursi depan mobilnya yang sedang diparkir di halaman rumahnya pada tanggal 30 November. Kasus ini menjadi gelap kembali. Namun paling tidak polisi memegang buku yang mungkin bisa menjadi petunjuk.





Empat baris kode yang aneh

Ketika buku ini diteliti, polisi menemukan adanya empat baris tanda yang dibuat dengan pensil di belakang buku tersebut. Namun, penemuan ini kembali membingungkan polisi karena empat baris kata ini hanya berupa deretan kata yang tidak berarti.





Barisan kode ini tidak terpecahkan hinggi kini. Bahkan ketika diserahkan kepada kementrian pertahanan Australia pada tahun 1978, departemen ini juga menyimpulkan bahwa kode-kode ini tidak memiliki arti dan mungkin hanya barisan huruf yang acak. Para ahli matematika dan pemecah kode handal juga tidak dapat menemukan arti dari huruf-huruf ini.





Wanita yang misterius dan Alfred Boxall

Selain kode-kode ini, di halaman belakang buku ini ditemukan adanya sebuah nomor telepon. Ketika dilacak, nomor ini mengarah kepada seorang mantan perawat yang tinggal di Glenelg, dekat dengan lokasi penemuan mayat. Wanita ini mengatakan bahwa ketika ia bekerja di rumah sakit Royal North Shore di Sidney, ia memang memiliki buku The Rubaiyat, namun pada tahun 1944, di sebuah hotel bernama Clifton Gardens, ia memberikannya kepada seorang letnan bernama Alfred Boxall yang bekerja di militer Australia. Ketika ditunjukkan foto mayat pria itu, wanita ini tidak bisa memastikan identitasnya sebagai Boxall.





Polisi semakin yakin bahwa mayat itu adalah Alfred Boxall sendiri sampai suatu hari, Boxall muncul dengan buku The Rubaiyat, lengkap dengan halaman yang berisi kata "Taman Shud".





Di halaman depan buku itu, wanita yang memberikan buku itu kepada Boxall menulis ayat 70 dari Rubaiyat :





Indeed, indeed, Repentance oft before

I swore--but was I sober when I swore?

And then and then came Spring, and Rose-in-hand

My thread-bare Penitence a-pieces tore.





Ketika ditanya media soal mengapa wanita itu menulis ayat itu, Boxall menolak untuk menjawab.





Wanita ini, yang kemudian dipercaya banyak pihak memiliki keterkaitan dengan kasus ini kemudian meminta polisi untuk merahasiakan namanya karena tidak ingin privacynya terganggu. Ia juga menolak dikait-kaitkan dengan kasus ini. Anehnya, polisi setuju. Wanita ini meninggal tahun 2007 dan nama aslinya yang dianggap bisa jadi merupakan kunci untuk memecahkan kode rahasia itu tetap tidak diketahui oleh publik.





Banyak pertanyaan yang masih menggantung.





Siapakah pria misterius ini ?

Bagaimana ia meninggal ?

Apakah ia dibunuh ?

Lalu mengapa ia seakan-akan ingin identitasnya tidak diketahui ?





Banyak orang yang percaya Boxall adalah intelijen Australia dan Pria Somerton mungkin adalah mata-mata Rusia yang mati dibunuh. Pada saat itu adalah era perang dingin dan Blokade Berlin.





Lagipula, pada April 1947, Intelijen Amerika Serikat menemukan adanya dokumen rahasia yang bocor ke pihak Sovyet dari Canberra. Skandal ini menyebabkan Amerika melarang semua transfer informasi rahasia ke Australia.





Apakah ia adalah seorang mata-mata ?





Here Lies The Unknown Man

Pada 14 Juni 1949, Pria misterius dari Somerton dikuburkan. Beberapa tahun setelah kematiannya, bunga-bunga terlihat di kuburannya. Para saksi mengaku melihat seorang wanita menaruh kembang itu di kuburannya. Namun ketika polisi menanyai wanita itu, ia menyangkal mengenal pria itu.





With them the seed of Wisdom did I sow,

And with mine own hand wrought to make it grow;

And this was all the Harvest that I reap'd--

"I came like Water, and like Wind I go."



Ommar Khayam - The Rubaiyat






(wikipedia, policejournalsa.org.au)


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Teka-teki harta karun Olivier Levasseur yang hilang

0 komentar






Kita
sering mendengar mengenai legenda bajak laut dan harta karunnya yang
tersembunyi. Tapi mungkin banyak yang belum pernah mendengar bahwa ada
harta bajak laut yang dihubungkan dengan perkumpulan freemason. Ini adalah kisah bajak laut bermata satu, Olivier Levasseur.



Olivier Levasseur lahir di Calais, Perancis, sekitar tahun 1688 - 1690. Nama aliasnya adalah Le Buse atau La Bouche
(elang). Julukan ini diperolehnya karena kecepatannya dalam menyerang
musuh. Kita mungkin mengira bahwa bajak laut adalah mereka yang berasal
dari kaum berandalan, namun tidak demikian dengan Levasseur. Ia lahir
dari kalangan borjuis dan berada. Ia bahkan pernah mendapatkan
pendidikan yang baik hingga akhirnya menjadi anggota pasukan angkatan
laut Perancis.

Petualangannya dimulai ketika terjadi perang Spanish Succession
tahun 1701-1714. Levasseur ditugaskan untuk bertempur di dalam perang
ini. Ketika perang berakhir, ia dipanggil pulang oleh pemerintah
Perancis. Namun ia menolak dan malah bergabung dengan bajak laut Benjamin Hornigold
tahun 1716. Akibat perang yang dijalaninya, Olivier membawa sebuah
bekas luka di dekat matanya yang membuat pandangannya menjadi lebih
terbatas.

Setelah satu tahun melakukan berbagai pembajakan,
perkumpulan Hornigold terpecah. Olivier berpisah dan mencoba
peruntungannya di pantai barat Afrika. Pada tahun 1719, ia bekerja sama
dengan bajak laut Howell Davis dan Thomas Cocklyn.

Pada
tahun 1720, mereka menyerang pelabuhan Ouidah di pantai benin dan
berhasil menghancurkan benteng-benteng disana. Pada tahun yang sama ia
mengalami karam kapal di laut merah dan terdampar di pulau Anjouan,
salah satu pulau di Comoro. Saat itu, satu matanya sudah benar-benar
menjadi buta dan ia memutuskan untuk memakai penutup mata.

Pada tahun 1721, ia membangun markasnya di pulau Saint Mary, di dekat pantai Madagaskar. Bersama John Taylor dan Edward England, mereka berhasil melakukan beberapa pembajakan yang berhasil. Hasil pertama mereka adalah saat mereka berhasil membajak kapal Laccadives dan berhasil mendapatkan harta senilai 75.000 pound (sekitar 10,35 juta pound saat ini).

Kemudian, kesuksesan mereka yang terbesar datang ketika mereka berhasil menaklukkan kapal portugis Nossa Senhora do Cabo (The Virgin of the Cape)
yang penuh dengan harta milik uskup Goa yang juga ada di atas kapal.
Harta yang didapat antara lain batangan emas dan perak, lusinan kotak
penuh dengan koin golden guineas, berlian, mutiara, batu rubi, sutra dan
objek-objek religius dari katedral Saint Catarina di Goa, termasuk Flaming Cross of Goa yang terbuat dari emas murni. Total harta ini diperkirakan bernilai 100 juta poundsterling pada tahun 1968.

Namun
petualangan Levasseur berakhir ketika ia ditangkap dan digantung pada
tanggal 7 Juli 1730 di pulau Bourbon. Dan dari sinilah legenda mengenai
harta yang hilang mulai berkembang.

Legenda mengatakan bahwa
ketika ia berdiri di tiang gantungan dengan sepotong kain hitam menutupi
matanya, ia mengenakan sebuah kalung yang berisi 17 baris pesan
rahasia. Ia melemparkannya ke tengah kerumunan massa yang menyaksikannya
dan berteriak,"Temukan hartaku bagi kalian yang bisa mengartikannya!"


Kisah
mengenai kalung misterius dan harta ini menghilang selama beberapa abad
dari publik hingga tahun 1923. Pada saat itu, seorang wanita bernama
Mrs. Rose Savoy yang sedang berjalan-jalan menemukan beberapa ukiran di
bebatuan di pantai Bel Ombre dekat Beau Vallon di pulau Mahe,
Seychelles.

Selama ini ukiran tersebut tersembunyi dari pandangan
akibat air pasang. Namun karena kondisi air yang surut tahun itu,
ukiran itu mulai terlihat dan menunjukkan bentuk anjing, ular,
kura-kura, kuda, lalat, dua gambar hati yang bersatu, sebuah lubang
kunci, mata, kotak, tubuh seorang wanita dan kepala seorang pria.

Seorang
notaris yang tinggal di Victoria yang mendengar berita ini percaya
bahwa ukiran ini pastilah dibuat oleh para bajak laut. Ia lalu mencari
ke dalam arsip-arsip tuanya dan menemukan dua dokumen yang mungkin
memiliki hubungan dengan ukiran tersebut. Dokumen pertama adalah sebuah
peta pantai Bel Ombre yang terbit tahun 1735 di Lisabon. Dalam peta
tersebut tertulis : "Pemilik tanah..La Buse." La Buse adalah nama lain Levasseur.

Dokumen kedua adalah wasiat terakhir dari bajak laut Bernardin Nageon de L'Estang alias Le Butin (penyair) yang meninggal 70 tahun setelah Levasseur yang dengan suatu cara berhasil memiliki harta Levasseur. Dalam wasiat ini tetulis 3 baris Kriptogram dan dua surat.

Salah satu surat tersebut ditujukan untuk keponakannya :

"Aku
kehilangan banyak dokumen selama karam kapal. Aku telah berhasil
mengumpulkan kembali sejumlah harta yang disembunyikan; Namun masih ada
empat lagi yang tertinggal. Kamu bisa menemukannya dengan kunci dan
kombinasi dan dengan dokumen lainnya."


Lalu, surat lain yang ditujukan untuk kakak laki-lakinya berbunyi :

"Kapten kami terluka. Ia berusaha memastikan bahwa aku adalah benar seorang freemason.
Setelah yakin, ia mempercayakan kepadaku dokumen-dokumen dan rahasianya
kepadaku. Berjanjilah bahwa anak tertuamu akan mencari harta tersebut
dan memenuhi mimpiku membangun kembali rumah kita. Komandan akan
menyerahkan dokumen-dokumen tersebut. Jumlahnya ada tiga."
Surat ini pertama kalinya menunjukkan adanya kemungkinan keterkaitan antara perkumpulan freemason dengan harta Levasseur.

Notaris
itu kemudian menghubungi Mrs. Savoy dan bersama-sama mereka melakukan
penggalian di batu yang ditemukan Mrs.Savoy. Dibawah batu yang memiliki
ukiran mata, mereka menemukan dua peti mati yang berisi dua kerangka
beserta satu kerangka tanpa peti mati. Tiga kerangka tersebut dipercaya
sebagai bajak laut karena cincin emas yang ada pada telinga kiri
masing-masing. Tapi tidak ada harta yang ditemukan.

Pada tahun 1947, seorang Inggris bernama Reginald Cruise Wilkins,
tetangga Mrs.Savoy mulai mempelajari dokumen-dokumen tersebut. Ia mulai
dari tiga kriptogram dan dua surat yang ditemukan dan menemukan bahwa
alphabet misterius tersebut memiiki hubungan dengan simbol masonik.

Wilkins juga menemukan bahwa kriptogram tersebut memiliki hubungan dengan Zodiak, buku clavicles of Solomon dan Dua belas tugas Herkules.
Buku Clavicles of Solomon adalah sebuah buku yang berasal dari abad
pertengahan yang berisi mistik masa reinassance. Sedangkan dua belas
tugas Herkules adalah mitos dari Yunani mengenai dua belas tugas yang
harus diselesaikan oleh Herkules.

Dalam usahanya yang panjang dan
melelahkan, Wilkins berhasil memecahkan sebagian isi kriptogram
tersebut. Ia menemukan petunjuk bahwa harta tersebut berada di sebuah
ruang rahasia di dalam tanah. Ruangan itu dilindungi oleh air pasang
yang membutuhkan bendungan untuk menahannya dan harus didekati dari
sebelah utara. Akses ke dalamnya harus dilakukan lewat tangga batu dan
terowongan yang menuju ke bawah pantai.

Wilikins melakukan
beberapa penggalian di pulau Mahe. Di dalam sebuah gua, ia menemukan
beberapa pistol kuno, beberapa koin dan peti mati bajak laut. Namun Ia
tidak menemukan harta karun. Setiap penggalian yang dilakukannya, selalu merujuk kepada petunjuk berikutnya. Mengenai hubungan harta tersebut dengan freemasonry juga masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Setelah
mencari selama 27 tahun, Wilkins mulai kehabisan dana. Para investor
yang tidak sabar mulai menolak mensponsorinya. Lagipula kesehatannya
semakin menurun. Namun Wilkins percaya bahwa ia sudah sangat mendekati
lokasi harta tersebut. Sayang, pada tanggal 3 Mei 1977 Wilkins meninggal
dunia tanpa berhasil memecahkan potongan terakhir kode rahasia
tersebut. Saat ini anaknya, John, yang berprofesi sebagai guru sejarah,
meneruskan usahanya untuk menemukan harta tersebut.

"Temukan hartaku, bagi kalian yang bisa mengartikannya!" Dan suara tawa Levasseur terdengar menggema dari dalam kuburannya.


Notes :

Kuburan
Olivier Levasseur saat ini berada di pulau Reunion, wilayah Perancis
yang terletak di laut Hindia, sebelah selatan Madagaskar. Sedangkan
Seychelles tempat harta itu berada adalah sebuah negara kepulauan yang
kecil di Samudera Hindia, Timur Laut Madagaskar. Negara ini diapit oleh
Mauritius, pulau Reunion, Komoro, Mayotte dan Maladewa. Luasnya sekitar
455 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 80.000 jiwa.

(wikipedia)





silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

Kamis, 08 September 2011

jamur raksasa gegerkan warga lumajang

0 komentar
Lumajang - Penemuan jamur ajaib di Watu Lumpang, Desa Jogosari Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang menggegerkan. Rumah Markayi, 40 tahun, warga Dusun Kampung Baru Desa Jugosari, penemu jamur ajaib itu, hingga Rabu (30/3) siang ini banyak dikunjungi warga dari luar desanya untuk sekedar melihat wujud jamur ajaib itu.



Pantauan Tempo di rumah Markayi, bentuk jamur itu sama dengan jamur-jamur lainnya. Hanya ukurannya yang tidak lazim. Jamur yang ditemukan pada Selasa (22/3) pekan lalu itu memiliki batang berdiameter 20 sentimeter. Sedangkan bagian atas jamur berdiameter sekitar 60 sentimeter atau sepelukan tangan orang dewasa.






- Jamur Raksasa Yang Hebohkan Malang -
Warga sekitar akrab menyebutnya sebagai Jamur Barat yang bisa dimakan. Hingga sembilan hari sejak ditemukan, jamur ini tidak membusuk. “Biasanya jamur lain, satu hari saja sudah membusuk,” kata Tumina, 35 tahun, istri Markayi kepada wartawan di rumahnya.



Jamur ini dari hari ke hari semakin besar. Kini, jamur itu ditanam di pot plastik dan dipajang di meja di dalam rumahnya. Di dekat jamur tersebut juga dipasang sajadah. Di atas jamur sudah terlihat beberapa uang kertas pecahan seribu hingga lima ribu.



Tumina mengatakan, ketika baru diambil dari Watu Lumpang, ukuran jamur ini masih lebih kecil dari sekarang. “Saat baru diambil, masih sebesar piring makan dan ukuran batang separuh dari ukuran sekarang,” katanya.



Jamur tersebut ditemukan saat suaminya berangkat untuk menderes air nira untuk dibuat gula merah. Marhayi kemudian membawanya pulang ke rumah. Anehnya, pada malam hari Marhayi mimpi bertemu dengan dua pasang orang tua. “Dalam mimpinya kedua orang tua tersebut minta sajadah untuk sembahyang,” katanya. Karena itulah, Marhayi kemudian meletakkan sajadah di dekat jamur.



Warga sekitar, kata Tumina, menyatakan kalau jamur itu jamur ajaib. “Jamur ini tidak boleh diperlakukan dengan seenaknya,” katanya. Suaminya sendiri, lanjut Tumina, tidak merasakan firasat apa pun sebelum menemukan jamur tersebut.



Hanya, Tumina sempat marah dengan suaminya ketika membawa jamur itu pulang ke rumah. Dia khawatir keberadaan jamur itu akan membawa petaka pada keluarganya.



Sejak jamur itu dibawa pulang ke rumah, kata Tumina, banyak orang datang berduyun-duyun ke rumahnya. Beberapa orang di antaranya meletakkan uang kertas pecahan di atas jamur tersebut. Dia mengatakan, dua orang warga setempat sempat sakit karena telah memperlakukan jamur ini dengan seenaknya.



Tiari dan Jungrejo, warga setempat, mengaku badannya ngilu-ngilu setelah berniat untuk memakan jamur tersebut.



silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

WormHole Atau Lubang Waktu Sebagai Cikal Bakal Mesin Waktu

0 komentar







Hai
bro jangan bosan ya berkunjung diblog aku, karena tanpa kalian apalah
artinya blog ini,hehe...jadi buat kalian yang selalu setia dengan blog
the xfile tidak ada alasan bagiku untuk tidak  menulis artikel diblog
ini, baiklah sebelum terlalu jauh ngelantur baiknya kita langsung aja
keartikel yang kalau nggak salah masih tetap berhubungan dengan usaha
manusia untuk menciptakan perjalanan lintas waktu yang tentunya masih
menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan. Bagaimana bro apakah kita
langsung saja membahas tentang Wormhole tersebut...kita mulai saja okey.





Jadi apakah yang dimaksud Wormhole?


Wormhole itu adalah ’sesuatu’
yang ada secara teoritis. Paling tidak sampai detik tulisan ini
ditulis, wormhole hanya ada di atas kertas teori, atau muncul di
film-film dan buku-buku fiksi ilmiah. Keberadaan wormhole dalam teori
dimulai ketika Albert Einstein memperkenalkan Teori ‘Relativitas Umum’.
Disitu Einstein menunjukkan bahwa massa bisa membuat ruang(waktu)
melengkung atau terlipat, sehingga semakin besar massa, semakin
melengkung ruang(waktu). Bagaimana bro Sulit dibayangkan ya?










Di
tahun 1919, Arthur Eddington membuktikan, ketika pada waktu itu terjadi
Gerhana Matahari Total; bintang-bintang di sekitar Matahari teramati
dalam posisi yang bergeser dari posisi yang seharusnya. kenapa? Karena
tentu saja pada saat gerhana total itu, bintang-bintang bisa diamati
pada siang hari. Dan dari bukti pengamatan tersebut menunjukkan bahwa
teorinya Einstein memang benar. Bagaimana bintang bisa bergeser dari
posisi yang seharusnya? Karena medan gravitasi Matahari membelokkan arah
pancaran cahaya bintang.










Tapi
bukti pembengkokan cahaya oleh Matahari pada saat gerhana itu tentunya
tidak ada hubungannya dengan wormhole. Pembuktian oleh Eddington
tersebut hanyalah menunjukkan bahwa teori Relativitas Einstein itu
benar. Dan dari teori itu, satu pemikiran fundamental yang kita tahu
kemudian adalah, bahwa massa mempengaruhi ruang(dan waktu). Secara umum
gravitasi berkaitan erat dengan geometri, bagaimana arah cahaya bisa
berbelok, itu tidak terbayangkan sebelumnya. 





Perlu dipahami bahwa sebelum adanya teori Einstein, “ruang dan waktu adalah dua entitas yang terpisah”, tetapi teori Einstein menyatakan bahwa “ruang dan waktu merupakan entitas tunggal yang tidak terpisahkan”. Dengan demikian, geometri disini perlu dipahami sebagai relasi-ruang waktu.





Kembali
pada pekerjaan Einstein, teori Einstein mempergunakan teori matematis
yang dikenal sebagai persamaan medan Einstein, dan solusinya dikenal
sebagai solusi Scwarzschild. Solusi teori ini menguraikan tentang medan
gravitasi pada massa yang simetri-bola, tidak berotasi. Solusi ini
adalah yang menjadi cikal-bakal adanya ‘Black Hole’ (Blackhole Schwarzschild).










Di
tahun 1916, tidak lama setelah Einstein memperkenalkan teori
Relativitas; Ludwing Flamm menyadari bahwa persamaan Einstein mempunyai
solusi yang lain, dikenal sebagai ‘White Hole’,
dan bahwa kedua solusi tersebut menguraikan adanya dua daerah dalam
ruang-waktu (datar) yang terhubungkan (secara matematis) oleh adanya
suatu ‘lorong’ ruang-waktu. Karena
teori belum mengatakan dimana wilayah ruang waktu itu di dunia nyata,
jadi bisa saja black-hole sebagai pintu masuk dan white hole sebagai
pintu keluar, tapi bisa saja di dunia yang sama dengan kita (ruang waktu
yang bisa kita pahami), atau di ruang dan waktu yang lain (semesta
lain, semesta paralel, masa lalu, sekarang atau masa depan?). Tetapi,
White Hole melanggar Hukum Ke-2 ‘Termodinamika’, dengan demikian, keberadaan White Hole sulit diterima secara mudah.







Pada
tahun 1935, Albert Einstein dan Nathan Rosen mempelajari lebih lanjut
kaitan Black Hole dan White Hole tersebut; bahwa dari perumusan teori
Relativitas Umum, struktur ruang-waktu yang melengkung bisa
menghubungkan dua wilayah dari ruang-waktu yang jauh, melalui suatu
bentuk serupa lorong, sebagai jalan pintas dalam ruang. Pekerjaan ini
secara formal dikenal sebagai ‘Jembatan Einstein-Rosen’.
Tujuannya bukan untuk mempelajari perjalanan yang lebih cepat dari
cahaya atau perjalanan antar semesta, tetapi lebih pada mencari
penjelasan pada partikel fundamental (seperti elektron) dalam
ruang-waktu. Jembatan Einstein-Rosen ini dikenal juga dengan nama lain,
seperi Lorentzian Wormhole atau Schwazschild wormhole.







Pada
tahun 1962, John Wheeler dan Robert Fuller menunjukkan bahwa wormhole
tipe jembatan Einstein-Rosen tidak stabil, menyebabkan cahaya pun tidak
dapat melewatinya sesaat wormhole terbentuk. Lalu, apakah wormhole tidak
bisa dilalui? (Traversable)? Kita akan meninjau tentang traversable
wormhole sejurus nanti.





Demikian,
sejak saat itu, teori tentang wormhole terus menerus dikaji; demikian
juga, urban legend tentang wormhole pun hadir di tengah masyarakat,
khususnya dalam literatur fiksi ilmiah.





Teori
ilmiah tentang wormhole terus berkembang: semuanya mempunyai prinsip
yang sama, yaitu solusi matematis mengenai hubungan geometris antara
satu titik dalam ruang-waktu dengan titik yang lain, dimana hubungan
tersebut bisa berperilaku sebagai ‘jalan pintas’ dalam ruang-waktu.





Bagaimana wormhole terbentuk?


Kembali
pada ilustrasi gambar Bumi. Jika ada kelengkungan ruang-waktu pada
suatu titik, dan tersambung dengan kelengkungan pada ruang-waktu yang
lain, maka demikian lah gambaran wormhole ada. Seperti pada ilustrasi
berikut, yang diambil dari film Stargate S1, seolah-olah semuanya itu
indah dan menyenangkan. Seperti pintu Doraemon, kita buka pintu-nya,
lalu kita sampai di suatu tempat yang jauuhh sekali. Ah indahnya fiksi
ilmiah.










Wormhole
yang berkaitan dengan hubungan dalam ruang-waktu, dikenal sebagai
Laurentzian wormhole. Hubungan disini tentu saja dikatakan sebagai jalan
pintas, karena: Jika perjalanan dari Gerbang ke Bulan, bisa dilakukan
jauh lebih cepat, bahkan lebih cepat daripada laju cahaya menempuh jalur
normal. (Tentu saja artian lebih cepat dari laju cahaya ini karena
menggunakan jalur yang lebih pintas, bukan karena ‘lebih cepat dari laju cahaya’). Itu tentu saja, bila perjalanan memang dapat dilakukan melalui wormhole.





Tetapi,
kompleksitas muncul, karena, apakah kita bisa menentukan ujung
perjalanan kita? Apakah kita akan keluar di ujung, di semesta yang sama?
Atau di semesta paralel? Atau kita muncul di waktu yang sama? Apakah
kita muncul di waktu kita? Atau di masa lalu? Atau masa depan? Tentu
saja semua mungkin, karena Laurentzian wormhole merupakan produk dari
Teori Relativitas Umum yang menyatakan bahwa semua bergerak baik dalam
ruang maupun dalam waktu.





Lorentzian wormholes terbagi dalam dua jenis:

1) Inter-universe wormholes, wormholes yang menghubungkan semesta kita dengan ’semesta’ yang lain. Ini adalah dugaan tentang adanya semesta paralel.

2) Intra-universe wormholes, wormhole yang menghubungkan dua daerah dalam semesta yang sama.


Ada juga wormhole lain yang dikenal sebagai ‘Euclidean wormholes’, yang mana, wormhole ini ada dalam proses yang sangat mikro, karena menjadi perhatian utama para ahli teori ‘medan quantum’










Dengan demikian wormhole jenis ini, pada saat ini tidak akan dibahas, dan Laurentzian wormhole adalah wormhole yang kita bahas.





Kembali pada pertanyaan, apakah mungkin kita melakukan perjalanan melalui Wormhole?


Kip Thorne dan Mike Morris pada tahun 1988 mengusulkan bahwa wormhole bisa dipertahankan kestabilannya mempergunakan ‘materi eksotik’ suatu
materi yang masih teoritis, dan belum ditemukan di dunia, dengan
perilaku seperti massa yang negatif atau menolak gravitasi, alih-alih
patuh pada hukum Gravitasi Newton. 










Model teori ini dikenal sebagai ‘Morris-Thorne wormhole’.
Teori-teori yang kemudian dikembangkan untuk mempertahankan kestabilan
wormhole, sehingga bisa dilalui, sampai saat ini berpedoman pada
argumentasi bahwa, tidak ada materi yang kita ketahui bisa berperanan
untuk mempertahankan kestabilan, karena membutuhkan adanya ‘energi negatif’.





Kendati
wormhole masih menjadi wacana teori (dan urban legend), tetapi belum
ada bukti yang bisa mendukung keberadaannya, baik dari pengamatan maupun
secara eksperimen. Apakah kemudian wormhole itu tidak mungkin ada? Atau
mungkinkah wormhole dibuat?





Secara teori, kita bisa membangun Wormhole. Caranya?


Supaya
ruang-waktu bisa terlipat dibutuhkan materi dan energi yang sangat luar
biasa, jadi kita tinggal mencari materi yang sangat padat di luar
angkasa sana, sebut saja, dari bintang ‘ne(u)tron’.
Kenapa bintang netron? Bintang netron adalah jenis bintang yang
massa-nya mencapai 1,35 sampai 2,1 kali massa Matahari, tetapi dengan
radius hanya 20 sampai 10 km, mencapai 30 ribu – 70 ribu lebih kecil
daripada Matahari. Dengan demikian, maka berat-jenis bintang netron
mencapai of 8×10^13 to 2×10^15 g/cm^3.










Seberapa banyak memerlukan massa dari bintang netron? “Secukupnya”
– sampai bisa membentuk cincin raksasa seukuran orbit Bumi mengelilingi
Matahari. Kemudian, buat cincin yang lain di ujung yang lain. Setelah
konstruksi cincin raksasa di kedua ujung tersebut selesai, berikan
tegangan listrik yang sangat tinggi, pada kedua ujungnya, diputar sampai
mencapai laju cahaya — dua-duanya, dan voila, perjalanan lintas
ruang-waktu seketika.










Fakta
bahwa perjalanan menembus waktu, atau apabila meloncat ke masa depan
itu bisa diterima, karena memang tidak bertentangan dengan Teori
Relativitas Khusus, tetapi jika perjalanan-nya mundur dalam waktu? Itu
yang menjadi kontroversi, seperti yang dilakukan para time traveller,
sesuatu yang sulit dipahami, bahkan bisa menimbulkan paradoks.





Bila,
salah satu ujung wormhole yang tadi telah dibuat tersebut digerakkan
dengan laju mencapai laju cahaya, dan sesuai dari teori Relativitas
Khusus, semakin laju suatu benda, mencapai kecepatan cahaya, waktu
berjalan menjadi lambat; gerak relatif tersebut menciptakan perbedaan
waktu antara keduanya. Sedemikian sehingga tercipta adanya lorong yang
ujung-ujungnya berbeda waktu. Jika dari ujung yang diam, seseorang
bergerak jauh ke masa depan, tapi kebalikannya, dari ujung yang
bergerak, dia akan kembali ke masa lalu!










Disinilah
kontroversinya, jika seseorang kembali dari masa depan, lalu membunuh
orang-tuanya sebelum dia dilahirkan, lalu bagaimana dia bisa ‘ada’ dan melaksanakan misi membunuh orang-tuanya? Dengan pengetahuan akan teori Quantum, Stephen Hawking memperkenalkan ‘Konjektur Perlindungan Kronologi’, yang bisa ‘melindungi’ perjalanan
antar waktu tersebut. Karena secara teori, di dalam lorong pasangan
partikel-antipartikel secara terus menerus tercipta dan saling
meniadakan, dengan demikian energi meluap dengan amat sangat, bahkan
bisa melebihi energi eksotis yang diperlukan untuk membuka gerbang
wormhole. Dan, wormhole akan terganggu dan tertutup, bahkan sebelum
mesin waktu tercipta. 





Lalu apakah dengan demikian mesin waktu itu tidak mungkin?


Apapun
yang mungkin sebenarnya bisa terjadi, apakah wormhole sebagai mesin
waktu ada? Bisa terjadi? Atau sebagai portal antar ruang? Semua masih
terbuka, masih harus menunggu penantian yang panjang, karena masih harus
mencari pemahaman dan penyatuan teori mekanika quantum dan gravitasi.










Jadi kesimpulannya sebuah mesin waktu akan tetap menjadi sebuah misteri bagi para ilmuwan. Benar begitu bro?..


Makasih ya atas waktunya.







silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!