Sabtu, 26 November 2011

Jenang Suro” Tradisi Menyambut 1 Muharram




Meski tidak ada perayaan yang sifatnya massal dalam menyambut tahun
Baru Islam 1 Muharram, atau bertepatan dengan Tahun Baru Jawa 1 Suro.
Namun masyarakat Banyuwangi (Baca:Using) di desa-desa, selalu menyabut
dengan selamatan khusus membuat Jenang Suro (Bubur Suro). Jenang Suro
yang sepintas mirip dengan bubur Jakarta ini, dibuat hanya khusus pada
bulan suro, tetapi tidak diseragamkan tanggal epmbuatannya. Jenang Suro
terbuat dari beras, diberi kuah kare, ditaburi irisan dadar telor,
kacang tanah goreng, irisan kelapa goreng, daun sledri dan cabe merah
sebagai penghias.


Namun ibu dan nenek saya, tidak pernah cerita apa arti dari Jenang
Suro itu. Termasuk simbol-simbol dari penampilan Jenang Suro, karena
saat selamatan digelar tanpa mengundang tetangga, atau diacarakan secara
khusus. Niat dilafalkan dalam hati, kemudian setelah jenang selesai
dimasak dan ditata penampilan. Selanjutkan akan diantar ke sanak
saudara, tetangga, masing-masing satu piring.


Selain menggelar sendiri, keluarga Using juga akan menerima balasan
dari tetangga yang akan menggelar selamatan secara khusus pada hari
berikutnya, pada hari yang sama atau hari sebelumnya. Acara ini, tidak
diumumkan secara khusus melalu masjid, namun lebih kepada kesadaran
invidu. Mereka tanpa dikomando, selalu menyisihkan beras dan uang untuk
meneruskan tradisi membuat Jenang Suro, meski kadang kurang faham apa
arti semua yang mereka lakukan. Bila dalam satu hari ada lebih dari satu
warga yang menggelar selamatan Jenang Suro, maka akan terjadi saling
tukar Jenang Suro. Tidak ada istilah, karena ini sudah menggelar
selamatan, terus tidak mendapatkan dari tetangga yang menggelar. Inilah
mungkin yang perlu diungkap, apa sebetulnya konsep selamaten bagi warga
Using.


Dalam Website Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pasuruan, Jawa
Timur, ada pertanyaann dari warga Nahdliyin tentang hukum dari selamatan
Jenang Suro. Mengingat tardisi untuk menyambut Tahun baru Islam itu,
tidak ditemukan dalam buku fiqih (Syariat Islam). Ternyata, tradisi
membuat Jenang Suro itu, juga berkembang di lingkungan Islam lainnya.
Namun penulis belum mengetahui bentuk Jenang Suro yang dibuat orang di
luar Banyuwangi. Mengingat selama penulis tinggal di Kediri tidak
menemukan tradisi ini.


Masih dari Website PCNU Pasuruan, pengelola menjawab, meski tidak ada
dalam fiqih Islam, tetapi tradisi itu tidak bertentangan sepanjang
niatnya shodaqoh. Meskipun kegitan itu disebut Bid’ah, menurut Syeh Ibnu
Hajar. Namun kitab Ar Roudl al Faaiq bahwa di dalam hal semacam itu
terdapat pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan dan
menghidangkannya kepada fakir miskin. Bahkan menurut kitab Badai’uzzuhur
hal tersebut termasuk mustahabbah.Apabila melakukan tradisi tersebut
diyakini sebagai sebuah ajaran syari’at, maka termasuk bid’ah madzmumah
(tercela).


Namun saya menemukan tulisan menarik di: www.adilnews.com Pada tulisa itu, dibahas tentang tradisi merasayakan 10 Muharram:


“Di Jawa, pada bulan Muharam, tetangga saling berkirim ‘bubur
Sura’ atau ‘jenang Suro’, sebuah makanan khas Muharam dan Asyura, yang
berwarna putih (kesucian) dan bertabur warna merah (kesyahidan).
Sebagian orang Jawa melakukan meditasi untuk merenungi diri di
tempat-tempat sakral, melakukan “lek-lekan” (begadang) hingga pagi hari
di beberapa tempat yang dianggap sakral. Ada pula yang melaksanakan
upacara Grebeg Suro. Di Maluku dan Sulawesi, warga pesisisr enggan
melaut di bulan ini. Di Sumatera, terutama di Padang, Riau, dan Aceh,
diadakan upacara “Tabut” pada 10 Muharam. Bahkan, tarian Saman khas Aceh
diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura yang disertai dengan
pemukulan dada sebagai simbol kesedihan.



Ada apa di 10 Muharam dan Asyura? Menurut Dr. Zafar Iqbal, pakar
sejarah budaya Persia dan Indonesia, dalam Kafilah Budaya (Citra: 2006),
tradisi-tradisi itu berakar dari peristiwa ‘tanggal merah’ 10 Muharram
(tanggal monumetal pembantaian Husain bin Ali bin Abi Thalib) yang
terjadi di Karbala sekitar 89 tahun sejak wafatnya sang datuk, Muhammad
saw. Sayang, sebagian besar umat Islam tidak lagi mengingatnya. Yang
jelas, apa pun bentuk tradisinya, ada ‘tanggal merah’ (peritiwa
berdarah) pada 10 Muharam.


Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai
bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan “Selamat
Tahun Baru Hijriah”, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun,
tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya
sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak
kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan
“Asyura”.


Mengapa perlu diperingati? Dendamkah? Menurut Antoane Bara,
penulis Kristen asal Suriah, dalam bukunya, The Saviour: Husain dalam
Kristianitas (Citra:2007), pikiran manusia mana pun yang mengamati
perjalanan hidup Husain bin Ali, yang dibantai bersama 73 anggota
keluarga dan sahabatnya pada 10 Muharam, sudah pasti merasakan getaran
cinta yang aneh dalam hatinya.”



Nah dari tulisan di atas, tampak adanya hubungan Jenang Suro dengan
tradisi Islam. Namun kurang jelas, sebagai ungkapan menyanbut datangnya
tahun baru 1 Muharram, atau sebagai upaya mengenang pembantain Huasin
bin Ali Bin Abi Thalib tepaty 10 Muharram. Namun yang jelas, acara
selamatan Jenang Suro dilakukan selama sebulan penuh, tanpa terpaku pada
tanggal tertentu.


Secara fisik, bentuk Jenang Suro wong Using sama seperti yang
disiratkan dalam tulisan di atas. Ada warna putih dari bubur bera, ada
warga merah dari hiasan cabe merah. Sedangkan kuahnya warga kuning,
yaitu kuah kare berbahan kunyit. Menariknya, saat mengantar dengan
piring. Penerima tingga menarik daun pisang yang dibentuk bular sebagai
alas, kemudian dipindah ke piringnya sendiri. Kiranya menjadi pekerjaan
kita bersama, untuk mengungkap makna tradisi dari selamatan Jenang Suro.
Agar kita juga bisa menjelaskan kepada generai muda, bahwa yang
dilakukan orang tuanya itu ada maknanya. Baik yang tersurat, maupun
tersirat (simbolis)….



 wong using



silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

0 komentar:

Poskan Komentar