Sabtu, 26 November 2011

Jenang Suro” Tradisi Menyambut 1 Muharram

0 komentar



Meski tidak ada perayaan yang sifatnya massal dalam menyambut tahun
Baru Islam 1 Muharram, atau bertepatan dengan Tahun Baru Jawa 1 Suro.
Namun masyarakat Banyuwangi (Baca:Using) di desa-desa, selalu menyabut
dengan selamatan khusus membuat Jenang Suro (Bubur Suro). Jenang Suro
yang sepintas mirip dengan bubur Jakarta ini, dibuat hanya khusus pada
bulan suro, tetapi tidak diseragamkan tanggal epmbuatannya. Jenang Suro
terbuat dari beras, diberi kuah kare, ditaburi irisan dadar telor,
kacang tanah goreng, irisan kelapa goreng, daun sledri dan cabe merah
sebagai penghias.


Namun ibu dan nenek saya, tidak pernah cerita apa arti dari Jenang
Suro itu. Termasuk simbol-simbol dari penampilan Jenang Suro, karena
saat selamatan digelar tanpa mengundang tetangga, atau diacarakan secara
khusus. Niat dilafalkan dalam hati, kemudian setelah jenang selesai
dimasak dan ditata penampilan. Selanjutkan akan diantar ke sanak
saudara, tetangga, masing-masing satu piring.


Selain menggelar sendiri, keluarga Using juga akan menerima balasan
dari tetangga yang akan menggelar selamatan secara khusus pada hari
berikutnya, pada hari yang sama atau hari sebelumnya. Acara ini, tidak
diumumkan secara khusus melalu masjid, namun lebih kepada kesadaran
invidu. Mereka tanpa dikomando, selalu menyisihkan beras dan uang untuk
meneruskan tradisi membuat Jenang Suro, meski kadang kurang faham apa
arti semua yang mereka lakukan. Bila dalam satu hari ada lebih dari satu
warga yang menggelar selamatan Jenang Suro, maka akan terjadi saling
tukar Jenang Suro. Tidak ada istilah, karena ini sudah menggelar
selamatan, terus tidak mendapatkan dari tetangga yang menggelar. Inilah
mungkin yang perlu diungkap, apa sebetulnya konsep selamaten bagi warga
Using.


Dalam Website Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pasuruan, Jawa
Timur, ada pertanyaann dari warga Nahdliyin tentang hukum dari selamatan
Jenang Suro. Mengingat tardisi untuk menyambut Tahun baru Islam itu,
tidak ditemukan dalam buku fiqih (Syariat Islam). Ternyata, tradisi
membuat Jenang Suro itu, juga berkembang di lingkungan Islam lainnya.
Namun penulis belum mengetahui bentuk Jenang Suro yang dibuat orang di
luar Banyuwangi. Mengingat selama penulis tinggal di Kediri tidak
menemukan tradisi ini.


Masih dari Website PCNU Pasuruan, pengelola menjawab, meski tidak ada
dalam fiqih Islam, tetapi tradisi itu tidak bertentangan sepanjang
niatnya shodaqoh. Meskipun kegitan itu disebut Bid’ah, menurut Syeh Ibnu
Hajar. Namun kitab Ar Roudl al Faaiq bahwa di dalam hal semacam itu
terdapat pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan dan
menghidangkannya kepada fakir miskin. Bahkan menurut kitab Badai’uzzuhur
hal tersebut termasuk mustahabbah.Apabila melakukan tradisi tersebut
diyakini sebagai sebuah ajaran syari’at, maka termasuk bid’ah madzmumah
(tercela).


Namun saya menemukan tulisan menarik di: www.adilnews.com Pada tulisa itu, dibahas tentang tradisi merasayakan 10 Muharram:


“Di Jawa, pada bulan Muharam, tetangga saling berkirim ‘bubur
Sura’ atau ‘jenang Suro’, sebuah makanan khas Muharam dan Asyura, yang
berwarna putih (kesucian) dan bertabur warna merah (kesyahidan).
Sebagian orang Jawa melakukan meditasi untuk merenungi diri di
tempat-tempat sakral, melakukan “lek-lekan” (begadang) hingga pagi hari
di beberapa tempat yang dianggap sakral. Ada pula yang melaksanakan
upacara Grebeg Suro. Di Maluku dan Sulawesi, warga pesisisr enggan
melaut di bulan ini. Di Sumatera, terutama di Padang, Riau, dan Aceh,
diadakan upacara “Tabut” pada 10 Muharam. Bahkan, tarian Saman khas Aceh
diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura yang disertai dengan
pemukulan dada sebagai simbol kesedihan.



Ada apa di 10 Muharam dan Asyura? Menurut Dr. Zafar Iqbal, pakar
sejarah budaya Persia dan Indonesia, dalam Kafilah Budaya (Citra: 2006),
tradisi-tradisi itu berakar dari peristiwa ‘tanggal merah’ 10 Muharram
(tanggal monumetal pembantaian Husain bin Ali bin Abi Thalib) yang
terjadi di Karbala sekitar 89 tahun sejak wafatnya sang datuk, Muhammad
saw. Sayang, sebagian besar umat Islam tidak lagi mengingatnya. Yang
jelas, apa pun bentuk tradisinya, ada ‘tanggal merah’ (peritiwa
berdarah) pada 10 Muharam.


Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai
bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan “Selamat
Tahun Baru Hijriah”, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun,
tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya
sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak
kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan
“Asyura”.


Mengapa perlu diperingati? Dendamkah? Menurut Antoane Bara,
penulis Kristen asal Suriah, dalam bukunya, The Saviour: Husain dalam
Kristianitas (Citra:2007), pikiran manusia mana pun yang mengamati
perjalanan hidup Husain bin Ali, yang dibantai bersama 73 anggota
keluarga dan sahabatnya pada 10 Muharam, sudah pasti merasakan getaran
cinta yang aneh dalam hatinya.”



Nah dari tulisan di atas, tampak adanya hubungan Jenang Suro dengan
tradisi Islam. Namun kurang jelas, sebagai ungkapan menyanbut datangnya
tahun baru 1 Muharram, atau sebagai upaya mengenang pembantain Huasin
bin Ali Bin Abi Thalib tepaty 10 Muharram. Namun yang jelas, acara
selamatan Jenang Suro dilakukan selama sebulan penuh, tanpa terpaku pada
tanggal tertentu.


Secara fisik, bentuk Jenang Suro wong Using sama seperti yang
disiratkan dalam tulisan di atas. Ada warna putih dari bubur bera, ada
warga merah dari hiasan cabe merah. Sedangkan kuahnya warga kuning,
yaitu kuah kare berbahan kunyit. Menariknya, saat mengantar dengan
piring. Penerima tingga menarik daun pisang yang dibentuk bular sebagai
alas, kemudian dipindah ke piringnya sendiri. Kiranya menjadi pekerjaan
kita bersama, untuk mengungkap makna tradisi dari selamatan Jenang Suro.
Agar kita juga bisa menjelaskan kepada generai muda, bahwa yang
dilakukan orang tuanya itu ada maknanya. Baik yang tersurat, maupun
tersirat (simbolis)….



 wong using



silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

kisah seorang pria yang berusaha membuat mesin waktu

0 komentar





Mike Marcum membuat heboh ketika pada tahun 1995 muncul di acara radio Coast to Coast dan mengatakan bahwa ia memiliki konsep mesin waktu yang dapat direalisasikan. Entahkah mesin waktu itu bekerja atau tidak, tapi konon kabarnya, sejak tahun 1997, Mike Marcum menghilang tanpa jejak. Apakah ia berhasil melakukan perjalanan lintas waktu ?









Orang-orang menyebutnya Mike "Mad" Marcum. Pada tahun 1995, Ia mencoba untuk membuat sebuah mesin waktu dari serambi rumahnya di Missouri, Amerika Serikat. Ia memberikan alasannya membuat mesin waktu, yaitu untuk melihat nomor lotere yang akan keluar dari masa depan.





Pada tahun 1995, Marcum baru berusia 21 tahun dan kuliah di bidang kelistrikan. Menurut orang-orang yang mengenalnya, Marcum memang dikenal sebagai seorang yang cerdas.





Dalam wawancaranya dengan Art Bell, Host dari acara radio Coast to Coast, Marcum mengatakan bahwa ia menciptakan mesin waktu dengan "Tangga Yakub".



Tangga Yakub adalah sebuah peralatan yang memiliki dua batangan logam dengan percikan-percikan listrik diantaranya. Dalam film-film kuno, konsep tangga Yakub dapat kita lihat sebagai alat yang menciptakan kehidupan bagi Frankenstein. Dan seperti Frankenstein, menurut Marcum, sesuatu yang besar terjadi ketika Tangga Yakub-nya dijalankan.





"Tepat diatas Tangga Yakub, tercipta sebuah kondisi panas dengan lingkaran di tengahnya." Kata Marcum pada saat wawancara dengan Art Bell. "Pada mulanya, aku tidak mengetahui dengan pasti apa yang sedang terjadi. Bahkan sampai saat ini aku masih belum yakin."



Menurut Marcum, Ia kemudian melemparkan sebuah sekrup ke dalam lingkaran itu.



"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi aku mencoba melempar sekrup kedalamnya dan melihat apa yang terjadi," Katanya kepada Bell. "Setelah aku melemparnya, aku tidak melihat sekrup itu lagi."



Sekrup itu hilang, kata Marcum, lalu beberapa detik kemudian, muncul kembali secara tiba-tiba beberapa kaki dari tempatnya berdiri.



Dipenuhi rasa ingin tahu, Marcum lalu memutuskan melakukan sesuatu. Ia membuat Tangga Yakub sebesar manusia dengan 168 elektromagnetik di serambi rumahnya. Setelah Tangga Yakubnya selesai, Marcum masih memiliki satu masalah. Ia membutuhkan sumber listrik.



Jadi, dengan obsesinya yang menggebu, ia pergi ke sebuah gardu listrik di St Joseph dan mencuri 6 transformer dari situ.



Sherif Eugene Lupfer yang mengetahui hal itu segera menuju rumah Marcum dan menemukan keenam transformer tersebut telah terinstall ke Tangga Yakub-nya. Sebelum Marcum menyalakan peralatannya, Sherif telah memborgol tangannya dan menggiringnya ke penjara.





Setelah menjalani hukuman penjara selama beberapa lama, Marcum dibebaskan. Ia kemudian pindah ke sebuah Apartemen di St. Joseph dan mulai mengerjakan mesin waktunya kembali. Namun kemudian, pemilik apartemen mengusirnya. Menurut The New York Times, ia diusir karena memindahkan seekor kucing "sejauh satu blok". Entah apa maksudnya.



Pada tahun 1996, Marcum kembali muncul di acara radio Coast to Coast. Pada saat itu ia mengatakan bahwa 30 hari lagi ia dapat menyelesaikan mesin waktunya.



Itu adalah kemunculannya yang terakhir. Pada Januari 1997, Marcum menghilang.



Setelah hilangnya Marcum, seorang pria dari Orange County menelepon Art Bell. Ia mengatakan bahwa ia ingat dengan sebuah foto dari surat kabar edisi beberapa tahun lalu yang menceritakan sebuah peristiwa misterius yang terjadi pada tahun 1920an.



Menurut surat kabar tersebut, pada tahun 1920an, polisi menemukan mayat seorang pria di sebuah tabung besar yang aneh. Tubuh pria tersebut hancur berantakan. Disebelah tubuh tersebut ditemukan sebuah peralatan aneh. Para polisi saat itu tidak bisa mengidentifikasi peralatan itu atau identitas mayat itu. Penyebab kematiannya juga tidak dapat dipecahkan.



Pria dari Orange County ini kemudian ingat kepada foto tersebut dan ia mengatakan bahwa peralatan disamping mayat tersebut mirip dengan sebuah ponsel.



Apakah Marcum berhasil melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu ? Apakah mayat pria tersebut adalah Marcum ?



Berbeda dengan Andrew Carlssin yang memang cenderung fiktif, kisah Mike Marcum adalah sebuah kisah nyata. Ia bukan tokoh fantasi. Kemunculannya di Coast to Coast juga nyata. Mesin waktu yang dibangunnya juga nyata. Pencurian enam transformernya juga nyata. Satu-satunya yang meragukan adalah keberhasilannya membuat mesin waktu.



Dan mungkin juga Marcum tidak menghilang, mungkin ia memutuskan untuk menyerah dan bekerja sebagai tukang listrik di Missouri. Atau mungkin ia sedang mencoba mengerjakan mesin waktu lainnya. Kita tidak tahu pasti.



Saya suka dengan Marcum karena ia adalah pria biasa seperti kita. Bila Prof. Ronald Mallet membuat mesin waktu untuk menyelamatkan ayahnya, Marcum, secara sederhana dan polos mengatakan bahwa ia hanya ingin mengetahui nomor lotere yang akan keluar. Ia tidak berusaha menjadi pahlawan dengan memberikan alasan mulia untuk usahanya.



Jadi, saya memutuskan untuk tetap menulis kisah hidup Marcum tanpa peduli apakah mesin waktunya benar-benar bekerja. Mudah-mudahan kisah Marcum bisa sedikit memuaskan fantasi kita mengenai Time Travel.



(ourstrangeworld.net)


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

tradisi malam satu suro

0 komentar









 






Kedatangan
tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta
kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di
malam pergantian tahun.


Lain halnya dengan pergantian tahun baru
Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut
dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk
introspeksi diri.




Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa
umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam
suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa).


Bahkan sebagian orang memilih menyepi
untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut,
pohon besar, atau di makam keramat.


Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).


Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti
sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu.
Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem
kalender Hijriah.


Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di
tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan
Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.


Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai
awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci,
bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi
untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.


Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.


Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul
24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton
Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.


Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.


Kebo Bule merupakan hewan kesayangan
Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan
berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang
membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti
Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.


Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka
mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta
dan sekitarnya.


Selama melakukan ritual mubeng beteng
tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa.
Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.


Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga
diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang
masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun
baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.


Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa
meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya
manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai
ciptaan Tuhan.


Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.


Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.


Pesta pernikahan yang biasanya
berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku
yang harus dijalani selama bulan Suro.


Terlepas dari mitos yang beredar dalam
masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama
bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar
lebih mawas diri.


Dan bukankah introspeksi tak cukup
dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang
digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup
ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan
Suro.




Sumber: http://forumbebas.com













silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!

misteri bulan suro

0 komentar

 



Bulan Suro telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana.



Seperti bulan Suro yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?
Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu' untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur'an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?.

Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?
Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan "apa kata orang tua", demikianlah kenyataannya.


Para pembaca sekalian, dalil "apa kata orang tua", bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar'i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya):
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)
Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ? ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)
Demikian juga Fir'aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan:
"Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …" (Yunus: 78)
Kaum ‘Aad yang telah Allah ? binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud ? menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf: 70)

Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.
"(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al Baqarah: 170)

Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah ? dan Rasul-Nya ?. Allah berfirman (artinya):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya?

Karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur (????????) atau Thiyarah (???????), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.


Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.
"Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al A'raf: 131)


az





silahkan anda Copy paste artikel diatas
tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini.
terimakasih....!!!